Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Harga Minyak Naik Karena Ekspektasi Pemangkasan OPEC

Senin 19 Nov 2018 10:56 WIB

Red: Friska Yolanda

Ilustrasi Kilang Minyak

Ilustrasi Kilang Minyak

Foto: Foto : MgRol112
Jepang menurunkan permintaan minyak mentah.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Harga minyak naik pada perdagangan Senin (19/11) pagi, karena para pedagang memperkirakan eksportir utama Arab Saudi akan mendorong klub produsen OPEC untuk memangkas pasokan menjelang akhir tahun. Meskipun demikian, sentimen pasar masih lemah karena tanda-tanda perlambatan permintaan di tengah sengketa perdagangan yang mendalam antara dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Desember, patokan internasional untuk harga minyak, diperdagangkan pada 67,29 dolar AS per barel pada pukul 00.45 GMT. Harga ini naik 53 sen AS atau 0,8 persen, dari penutupan terakhir mereka.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 61 sen AS atau 1,1 persen, menjadi diperdagangkan di 57,07 dolar AS per barel. Meskipun terjadi kenaikan pada Senin, harga minyak mentah tetap hampir seperempat di bawah tertinggi baru-baru ini pada awal Oktober, terbebani oleh lonjakan pasokan dan perlambatan pertumbuhan permintaan.

"Radar 'bullish' pasar masih menunggu OPEC+ untuk memberikan angka pemotongan yang cukup besar," kata Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di broker berjangka Oanda di Singapura.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang secara de-facto dipimpin oleh Arab Saudi, mendorong kartel produsen dan sekutu-sekutunya untuk memotong pasokan satu juta hingga 1,4 juta barel per hari (bph). Pemotongan pasokan itu dilakukan guna menyesuaikan perlambatan dalam pertumbuhan permintaan dan mencegah kelebihan pasokan.

Di sisi permintaan, impor minyak mentah Jepang pada Oktober, yang terbesar keempat di dunia, sedang mengalami penurunan struktural. Kementerian keuangan negara tersebut menyatakan permintaan turun 7,7 persen dari bulan yang sama tahun lalu menjadi 2,77 juta barel per hari. Hal ini karena populasi yang menurun dan meningkatnya efisiensi energi.

Perusahaan-perusahaan energi AS menambahkan dua rig minyak dalam seminggu hingga 16 November, sehingga jumlahnya menjadi 888 rig. Menurut laporan mingguan perusahaan jasa energi Baker Hugher, ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2015.

Akibat terjadi lonjakan pasokan dan perlambatan permintaan, pasar keuangan telah menjadi semakin waspada terhadap sektor minyak.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA