Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

KIK: Dosis Keretakan Koalisi Oposisi Luar Biasa

Sabtu 17 Nov 2018 06:31 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Ratna Puspita

Abdul Kadir Karding

Abdul Kadir Karding

Foto: Republika/Bayu Adji P
Karding mengatakan anggota koalisi yang mempersoalkan komunikasi tunjukan keretakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN KIK) Abdul Kadir Karding menyebut adanya keretakan dalam koalisi pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Karding, dosis keretakan Koalisi Indoensia Adil Makmur (KIAM) itu sudah sangat berbahaya dan parah.

Baca Juga

"Kalau tweet semacam itu disampaikan oleh pucuk pimpinan tertinggi dan tokohnya Demokrat artinya saya menduga sudah dosis yang luar biasa," kata Abdul Kadir Karding di Jakarta, Jumat (16/11).

Komentar itu dilontarkan Karding menyusul rangkaian cicitan Ketua Umum partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui twitter-nya. Cicitan dilontarkan presiden ke-6 RI itu guna menanggapi pernyataan Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani yang meminta SBY menepati janji untuk melakukan kampanye bagi Prabowo-Sandi yang belum dia lunasi.

Menurut Karding, meilihat dari sisi politik, koalisi oposisi sejak awal sudah bermasalah. Dia menjelaskan, masalah muncul sejak adanya istilah mahar jenderal kardus.

Hal itu, Karding mengatakan, diperparah dengan ketidakpiawaian Gerindra menentukan pendamping Prabowo. Karding berpendapat, pencalonan Prabowo sebenarnya sudah dahsyat karena kemungkinan akan mendapatkan efek ekor jas kepada partai koalisi.

"Tetapi ternyata kan yang dipasang untuk wakilnya juga Gerindra. Sandiaga Uno walaupun pura-pura keluar, itu kan orang juga semua tahu," katanya.

Karding menambahkan, keretakan juga terlihat dari komposisi Badan Pemenangan Nasional (BPN) ketika ketua tim sukses dan tim inti tim sukses berasal dari Gerindra. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini melanjutkan, mereka juga tidak memberi ruang kepada partai-partai lain baik PKS, Demokrat, dan PAN.

"Seluruh partai ini dalam hampir dua bulan, koalisi mereka itu semua sudah pernah mengeluh soal komunikasi, sesungguhnya ini menujukkan bahwa koalisi sedang retak dan dianggap bahwa hanya Gerindra-lah yang ingin mengambil keuntungan sendiri," kata Karding lagi.

Karding lantas mengungkapkan kondisi dalam tubuh KIK, yang setiap partai pengusung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin berupaya tumbuh besar bersama. Dia mengatakan, koalisi harus mendapatkan keuntungan yang sama dan proporsional, terutama keuntungan elektoral.

"Jadi, kita semua ingin partai-partai yang ada di koalisi kami bisa besar bersama, dari situlah kami menyusun strategi gimana caranya. Kami menyadari ada efek ekor jas, tetapi kami juga menyadari bahwa itu bisa dikurangi efeknya dengan langkah-langkah tertentu," kata Karding.

Sebelumnya, SBY meminta pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 fokus untuk memaparkan kebijakan dan programnya kepada masyarakat. SBY mengimbau Gerindra untuk mawas diri daripada menyalahkan pihak lain. 

Dia mengatakan, dengan mengeluarkan pernyataan politik sembrono justru akan merugikan. "Saya pernah dua kali jadi Calon Presiden. Saya tak pernah menyalahkan & memaksa ketum partai-partai pendukung utk kampanyekan saya *SBY*,” tulis SBY dalam cicitannya.

SBY mengungkapkan, dalam pilpres, hal paling menentukan adalah sosok capres sebagai super star. Karena itu, Dia mengatakan, capres harus miliki narasi dan gaya kampanye yang tepat. 

Dia menambahkan rakyat ingin mendengar dari capres apa solusi, kebijakan serta program yang akan dijalankan untuk Indonesia lima tahun ke depan. Ia mengatakan, kalau "jabaran visi-misi" itu tak muncul, bukan hanya rakyat yang bingung, para pendukung pun juga demikian.

"Terakhir, saya pikir tak ada satu pun partai politik (yang tak punya capres dalam pemilu serentak ini) yang tak utamakan partainya," tutup SBY.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA