Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Seksisme, Persoalan Besar yang Disorot FIFA di Piala Dunia

Kamis 12 Jul 2018 09:56 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Endro Yuwanto

Suporter perempuan di Piala Dunia 2018 Rusia.

Suporter perempuan di Piala Dunia 2018 Rusia.

Foto: Republika/Citra Listya Rini
Insiden seperti pelecehan terhadap penyiar perempuan jadi persoalan besar.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) meminta stasiun televisi mengurangi atraksi perempuan yang mengenakan pakaian seksi di dalam stadion di Piala Dunia. Menurut FIFA, seksisme menjadi persoalan yang lebih besar daripada rasisme di Piala Dunia 2018 Rusia.

Kepala Diversiti FIFA Federico Addiechi mengatakan, FIFA akan berbicara dengan penyiaran nasional pemilik rumah produksi. Hal ini berdasarkan perkembangan ulasan dari program anti-diskriminasi FIFA.

Pengamatan FIFA menunjukkan, insiden yang melibatkan gender termasuk pelecehan terhadap penyiar perempuan menjadi masalah besar sejauh ini dibanding rasisme. Addiechi menuturkan, sudut pandang FIFA adalah sebuah evolusi yang normal dan penyiaran di Rusia telah membaik sejak Piala Dunia 2014 di Brasil.

Addiechi mengungkapkan, FIFA telah mengintervensi lembaga penyiaran dengan melihat dari kasus per kasus di mana beberapa kasus mengalami peningkatan. Dalam kejuaran selanjutnya, FIFA berharap jutaan penonton televisi di seluruh dunia akan mendapatkan tontonan yang lebih menghormati perempuan.

Sebab, FIFA menyebutkan pelecehan terhadap penyiar perempuan saat bekerja terhitung ada 30 kasus, termasuk 300 insiden seksisme di jalan. Walaupun rasisme diprediksi menjadi masalah utama Piala Dunia karena isu berkepanjangan di sepak bola Rusia dan suporter negara Eropa lainnya.

''Belum pernah terjadi jenis insiden ini seperti yang kami prediksi,'' jelas Direktur Pembiayaan FIFA Piara Powar dikutip dari ESPN, Kamis (11/7).

Powar berharap orang-orang Rusia menjadi contoh bagaimana cara membuat orang nyaman. Termasuk, bagaimana melayani pekerja media perempuan dan provokasi pendukung.

Powar mengatakan, hampir setengah dari laporan insiden yang melibatkan penyiar perempuan dilaporkan terjadi saat siaran langsung. Ia menghitung, paling tidak, ada 10 kasus lebih di mana perempuan Rusia menjadi target pelecehan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 

Jadwal Pertandingan

Selengkapnya
 
Terpopuler
 
Terkomentari