Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Elang Kepala Ganda di Dada Shaqiri

Sabtu 23 June 2018 13:03 WIB

Red: Didi Purwadi

Pemain Timnas Swiss, Xherdan Shaqiri, melakukan selebrasi Elang Kepala Ganda usai menjebol gawang Serbia di laga Grup E Piala Dunia 2018 di Kaliningrad, Rusia, Jumat (22/6).

Pemain Timnas Swiss, Xherdan Shaqiri, melakukan selebrasi Elang Kepala Ganda usai menjebol gawang Serbia di laga Grup E Piala Dunia 2018 di Kaliningrad, Rusia, Jumat (22/6).

Foto: AP/Laurent Gillieron
Ia adalah mimik sempurna elang hitam kepala ganda yang jadi lambang bendera Albania.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami

Wartawan Republika

Sepak bola dan politik. Para petinggi FIFA berkeras dua hal tersebut, seperti minyak dan air, tak  boleh bercampur baur. Tapi bahkan sebelum pertandingan antara Swiss melawan Serbia di Kaliningard Rusia, Sabtu (23/6) dini hari WIB, badai yang menjelang sudah nampak di kaki langit.

Fans Rusia dan Serbia sudah membaur membentuk semacam pakta kesepakatan di bar-bar menjelang pertandingan. Sementara di bagian belakang tumit sepatu kanan pemain sayap Swiss Xherdan Shaqiri yang ia pamerkan dalam sejumlah kesempatan ada sepetak biru dengan sebuah peta emas  dan bintang-bintang putih.

Dua tanda itu sedianya sendirinya sudah jadi kisi-kisi soal sengkarut politik di Balkan yang jadi latar belakang pertandingan yang menjelang. Bendera biru di sepatu kanan Shaqiri adalah milik Kosovo yang berjuang sejak lama memisahkan diri dari Yugoslavia dan kemudian Serbia dan akhirnya mendapatkan kemerdekaan 2008 lalu. Ia harus mengungsi ke Swiss bersama keluarganya sehubungan akar sejarah tersebut saat pasukan Yugoslavia dan Serbia mempersekusi gerakan kemerdekaan Kosovo bahkan dituding melakukan genosida dalam perang di Kosovo sepanjang 1980-an hingga 1990-an.

Shaqiri, bersama Granit Xhaka dan Valon Behrami di Timnas Swiss seluruhnya merupakan korban dari perang tersebut. Mereka berasal dari etnis Kosovar Albania yang di-Islamkan pada masa Turki Utsmaniyah dan merupakan mayoritas di wilayah Albania dan Kosovo. Dilansir the Guardian, Ragip Xhaka, ayah dari Granit bahkan pernah mendekam selama 3,5 tahun di penjara dan mengalami penyiksaan karena mengikuti aksi perlawanan terhadap pemerintahan komunis di Belgrad pada 1980-an.

Swiss sejauh ini memang mengizinkan kewarganegaraan ganda. Halangan bagi Xhaka dan Shaqiri membela Kosovo yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada 2008 hanyalah bahwa FIFA baru membolehkan timnas negara berlaga sejak 2016 dan menetapkan Shaqiri dan Xhaka tak boleh berlaga di bawah bendera biru.

Sementara Rusia, mengingat akar Uni Sovietnya, adalah salah satu negara yang berdiri bersama Serbia dalam menentang kemerdekaan Kosovo. Albania, sehubungan kedekatan etnis, geografis, dan agama Islam, adalah pendukung utama kemerdekaan Kosovo.

Dan peluit kick off pun ditiup di Kaliningard. Sejak awal, pasukan Serbia yang lebih diunggulkan tampil menggebrak. Baru menit ke-5, Aleksandar Mitrovic berhasil menjebol gawang Swiss. Sepanjang babak pertama, tanda-tanda pembantaian dari tim Serbia terus membayang.

Namun situasi berubah. Menit ke-53, dari seluruh pemain Swiss, adalah Xhaka yang ditakdirkan mencetak gol penyama. Sepanjang pertandingan, ia dan saudara-saudara Kosovarnya terus dipojokkan penonton yang meneriakkan “Rusia-Serbia! Rusia Serbia!” dan membentangkan spanduk mendeklarasikan persaudaraan kedua suporter.

Selepas tendangan kencang kaki kiri dari luar kotak penaltinya membuat bola masuk ke gawang Serbia, Xhaka merayakan. Sambil berlari, dua telapak tangannya ia lebarkan dan disilangkan di dada. Dua jempol jadi kepala elang ganda, jari-jari lain jadi sayap. Ia adalah mimik sempurna elang hitam berkepala ganda yang jadi lambang bendera Albania.

Pada menit ke-90, lagi-lagi dari seluruh pemain Swiss, adalah Shaqiri yang berlari menerima bola tak jauh dari tengah lapangan, membawanya sendirian ke depan gawang dan menyegel mala untuk Serbia. Berlari dan berteriak kegirangan, sang elang kepala ganda dari dua tangan kembali.

Dengan kemenangan semalam, halangan Swiss untuk maju ke babak 16 besar hanya Kostarika yang sudah tak punya peluang lagi setelah dikandaskan Brasil. Selepas pertandingan, Shaqiri tutup mulut soal perayaan itu meski tak menutup-nutupi gesturnya. “Ya, Anda sudah melihat yang saya lakukan. Itu luapan emosi kegembiraan selepas mencetak gol. Saya memang melakukan perayaan itu, dan kita tak perlu membicarakan ini,” ujarnya seperti dikutip ESPN selepas pertandingan.

Namun di akun twitter Shaqiri, akarnya muncul lagi "Kemenangan yang hebat malam ini! Kerja yang baik, kawan-kawan!" tulisnya sebelum menambahkan sejumlah emotikon dan menutupnya dengan syukur khas Muslim. "#elhamdulillah"

Pelatih Serbia Mladen Krstajic juga enggan membahas perayaan itu. “Saya tak berurusan dengan hal-hal semacam ini. Saya adalah seorang olahragawan dan akan tetap begitu,” ujarnya ditanyai soal perayaan Xhaka dan Shaqiri.

Sekarang, berpulang pada para petinggi FIFA meyikapi aksi heroik kedua pemain tersebut. Mereka diketahui kerap tak kenal ampun jika meja diplomasi atau medan perang dipindahkan ke lapangan hijau.

Bagaimanapun, buat penikmat sepak bola, ia adalah drama yang menggugah. Kisah soal bocah-bocah pengungsi yang menorehkan luka untuk negara asal prajurit-prajurit yang memaksa orang tua mereka meninggalkan kampung halaman.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 

Jadwal Pertandingan

Selengkapnya