Wednesday, 13 Safar 1442 / 30 September 2020

Wednesday, 13 Safar 1442 / 30 September 2020

LSI: Elektabilitas Ma'ruf dan Sandiaga Mungkin Tergerus

Kamis 15 Nov 2018 16:09 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Ratna Puspita

KH Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

KH Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

Foto: Foto : MgRol112
Elektabitlitas Ma'ruf dan Sandiaga berpotensi tergerus karena dua kejadian terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Elektabilitas calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno mungkin tergerus. Potensi berkurangnya jumlah dukungan lantaran  ucapan budek dan tuli dan tindakan melangkahi makam salah satu tokoh pendiri NU.

Ucapan budek dan tuli dilontarkan oleh Kiai Ma'ruf guna menyindir pihak-pihak yang menutup mata akan kinerja presiden. "Kalau berpengaruh tentu dilihat sejauh mana orang melihat bahasa itu sebagai melanggar norma-norma kesantunan yang semestinnya dijaga politisi," kata peniti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Ikrama Masloman di Jakarta, Kamis (15/11).

Kendati demikian, Ikrama belum bisa menakar sejauh mana dampak elektoral yang dimaksud. Dia mengatakan, tingkat elektabilitas usai adanya pernyataan budek dan tuli itu kembali harus diriset ulang.

Setidaknya, Ikrama menerangkan, ada dua hal yang akan memengaruhi elektabilitas Kiai Ma'ruf. Pertama, ia mengatakan, tingkat elektoral mantan rais aam Nahdlatul Ulama (NU) itu akan terpengaruh tergantung pada sejauh mana kiasan yang dia lontarkan itu mampu menyorot perhatian publik.

Kedua, dia melanjutkan, pengaruh terhadap elektabilitas juga tergantung sejauh mana kelompok disabilitas yang  tersinggung dengan ucapan itu menggalang atau membuat narasi kekecewaan. "Kalau ini dikapitalisasi secara terus-menerus dan kemudian banyak menimbulkan sentimen negatif terhadap Ma'ruf, tentu akan ada efek elektoral," kata Ikrama.

Untuk Sandiaga, Ikrama mengatakan, ancaman degradasi suara terkait kesantunan juga telah dilanggar pendamping calon presiden Prabowo Subianto itu. Menurut Ikrama, dampak elektoral akan diterima mantan wakil gubernur DKI itu setelah dirinya tertangkap kamera telah melangkahi makam salah satu tokoh pendiri NU. 

Peristiwa itu, terjadi saat Sandiaga berziarah ke Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Denanyar, Jombang, Jawa Timur. "Karena preferensi ulama sangat berpengaruh dan 50 persen dari warga mengikuti ulama, jadi siapapun tokoh politik yang dianggap melecehkan ulama pasti akan menggerus suaranya di pilpres," kata Ikrama.

Dia mengatakan, kikisan suara kepada Sandiaga akan terasa lebih besar di pemilih Muslim, khususnya yang bersifat konservatif. Menurutnya, mereka akan melihat pelangkahan makam itu sebagai pelanggaran etika dan berefek negatif.

"Tapi kami belum mendapatkan sejauh mana melangkahi makam itu akan berpengaruh karena harus kembali disurvei," katanya.

Hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan tokoh agama merupakan orang yang paling kuat pengaruhnya terhadap pemilih. Hasil survei menyebut 51,7 persen pemilih menyatakan jika mereka sangat mendengar himbauan dari tokoh agama.

Metodologi survei menggunakan multi random sampling dengan jumlah responden sebanyak 1200 orangndi 34 prpvonsi. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka atau memakai kuesioner dengan margin of error sekitar 2,8 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA