Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Kampus Minim Inovasi jadi Faktor Sarjana Menganggur

Ahad 11 Nov 2018 16:14 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Muhammad Hafil

Seorang pencari kerja mengisi pendaftaran di salahsatu stand perusahaan saat bursa kerja di auditorium Universitas Panca Sakti, Tegal, Jateng. Angka pengangguran di Indonesia sangat tinggi, lebih dari 7 juta orang.

Seorang pencari kerja mengisi pendaftaran di salahsatu stand perusahaan saat bursa kerja di auditorium Universitas Panca Sakti, Tegal, Jateng. Angka pengangguran di Indonesia sangat tinggi, lebih dari 7 juta orang.

Foto: ANTARA
Banyak sarjana yang bekerja tak pada bidang akademiknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mendorong kampus untuk berinovasi dalam berbagai bidang. Karena menurut dia, menumpuknya sarjana yang menganggur merupakan dampak dari kampus yang lamban berinovasi.

"Kalau kita lihat pengangguran sarjana cukup tinggi itu, faktor utamanya karena kampus kita banyak yang tidak inovatif," kata Nasir di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Ahad (11/11).

Salah satu indikasi kampus tidak inovatif, lanjut Nasir, yaitu dari pengajuan program studi baru yang terkesan latah. Maksudnya, jika perguruan tinggi satu membuka satu jurusan baru, perguruan tinggi yang lain ikut-ikutan membuka prodi yang sama.

Padahal, jelas dia, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya kampus bisa berpikir ke depan dan menginisiasi prodi baru yang orisinil.

"Prodi baru yang diajukan cenderung saja sama, jadi repetitif harusnya mencoba buka prodi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. misalnya teknologi informasi," terang Nasir.

Selama ini, Nasir melihat banyak sarjana yang bekerja tidak pada bidang akademiknya. Hal itu cukup disayangkan, meskipun dia mengaku banyak anak muda yang berhasil membuka usaha dan bekerja di luar bidang studinya.

"Nah itu artinya kembali pada kompetensi mahasiswa. Itu juga sesuai dengan program kami sekarang yang memokuskan pada kompetensi bukan hanya akademis," jelas dia.

Untuk mendukung itu, kata dia, Kemenristedikti sejak tahun 2017 telah memoratorium pembukaan prodi ilmu sosial. Dengan begitu, hanya pembukaan prodi STEM saja yang dibuka.
Menurut dia, hal itu sebagai salah upaya efektif. Mengingat di era revolusi industri, lulusan mahasiswa prodi STEM diprediksi bakal sangat dibutuhkan.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA