Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Mendag: Harga Telur dan Ayam Berpotensi Naik

Ahad 11 Nov 2018 11:54 WIB

Red: Ratna Puspita

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

Foto: Abdan Syakura (MJ07)
Hal ini lantaran tingginya permintaan warga menjelang Natal dan Tahun Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, BATAM -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan harga telur dan ayam berpotensi naik pada akhir tahun ini. Hal ini lantaran tingginya permintaan warga menjelang Natal dan Tahun Baru.

"Telur dan ayam ada potensi kenaikan harga," kata Menteri dalam Rapat Koordinasi Nasional Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga Barang Kebutuhan Pokok Menjelang Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di Batam, Kepulauan Riau, Ahad (11/11).

Ia mengatakan saat menjelang Natal dan Tahun Baru, kebutuhan masyarakat akan telur meningkat, sedangkan pasokannya relatif mengkhawatirkan. "Supply-nya, saya khawatir berkurang, mudah-mudahan tidak, maka akan jadi persoalan," kata dia.

Menteri meminta seluruh kepala dinas perdagangan untuk terus mengawasi kenaikan harga komoditas itu. Menteri menjabarkan, pemerintah sebenarnya sudah menerapkan strategi untuk menekan kenaikan harga telur, sejak komoditas itu mengalami penurunan harga beberapa waktu lalu.

"Saat harga telur turun, kami justru menaikkan harga batas bawah dan meminta pedagang retail modern membeli harga lebih tinggi sehingga para peternak tidak mengalami kerugian," kata dia.

Bila harga telur dibiarkan melemah, maka ia khawatir peternak memilih afkir dini, memotong ayam petelur. Pada akhirnya, pasokan telur berkurang dan harga akan meningkat lebih tinggi.

"Kami meminta tolong koordinasi dengan pasar, membeli jangan terlalu rendah," kata dia.

Selain telur dan ayam, harga cabai merah dan cabai keriting juga betpotensi naik, dipengaruhi keterbatasan pasokan karena sudah memasuki musim hujan.

Sementara itu, secara keseluruhan menurut mendag, harga komoditas pangan relatif stabil, tidak terlalu mempengaruhi inflasi. "Kontribusi volatile food tidak tinggi pada inflasi," kata dia.

Pasokan beras relatif mencukupi, demikian pula minyak goreng, daging, bawang putih dan bawang merah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA