Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Hotel Yamato, Titik Awal Mendidihnya Darah Rakyat Surabaya

Sabtu 10 Nov 2018 09:21 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Para pemuda di Surabaya menyerbu Hotel Yamato tempat Belanda mengibarkan benderanya

Para pemuda di Surabaya menyerbu Hotel Yamato tempat Belanda mengibarkan benderanya

Foto: ARNI
Arek Suroboyo merobek bendera Belanda di pucuk Hotel Yamato

REPUBLIKA.CO.ID, Inilah Surabaya, kota pahlawan yang memiliki banyak cerita heroik dalam perjalanannya. Surabaya terkenal dengan pemudanya yang gagah berani. Maka tak berlebihan, dalam salah satu versi, nama daerah ini diambil dari dua penggal kata: Sura yang berarti berani, dan Baya yang berarti bahaya. Surabaya: kampungnya para pemberani dalam tiap ancaman bahaya.

Penghormatan untuk kota inilah yang juga membuat tiap 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. September menuju November 1945, tak cukup rasanya merekam kembali semua peristiwa yang terjadi di ibu kota Jawa Timur ini. Tiap sudut di kota Surabaya, hampir semua menjadi saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Seperti Hotel Yamato atau Hotel Majapahit.

Hotel Majapahit yang berada di Jalan Tunjungan nomor 65, tak akan membekas kalau tidak pernah terjadi peristiwa perobekan Bendera Belanda di sana. Terkenang peristiwa 19 September 1945, di sinilah terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi bendera Indonesia (Merah-Putih).

Hotel Majapahit sebelumnya bernama Hotel Yamato pada zaman kependudukan Jepang. Di zaman Belanda berkuasa, hotel itu menyandang nama Hotel Orange, sebuah nama yang diambil dari warna kebanggaan negeri kincir angin itu. Konon nama Orange juga diambil lantaran bangunan hotel juga dicat penuh warna oranye.

Hotel Majapahit hingga kini masih kokoh berdiri di pinggiran Jalan Tunjungan yang memang dibuat satu arah. Biasanya, para turis kelas atas mengambil tempat di sini lantaran banyaknya fasilitas layaknya hotel berbintang.

Tiang putih menjulang tiga meter di salah satu menara putihnya. Di tiang itu, indah berkibar sang merah putih di ujungnya. Mungkin ini jadi alasan mengapa Hotel Majapahit menjadi lokasi pertama bagi siapa pun yang berkunjung di kota tua Surabaya. Di sini, "Insiden Hotel Yamato" terjadi.

"Hotel Yamato, titik awal mendidihnya darah rakyat Surabaya," kata sejarawan sekaligus guru besar Universitas Surabaya, Prof Dr Aminuddin Kasdi.
Berawal pada 15 September 1945, tentara Inggris datang ke Indonesia yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). AFNEI yang merupakan bikinan blok sekutu Inggris dan Belanda, awalnya bertugas melucuti tentara Jepang di Indonesia, membebaskan para tawanan, serta mengembalikan tentara Jepang ke negerinya.

Hanya saja, kedatangan tentara Inggris diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang membawa misi mengembalikan Indonesia sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Hotel Yamato direncanakan menjadi markas para tentara sekutu saat itu. 18 September 1945 pukul 21.00, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V. Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda di tiang tertinggi itu. Ploegman sendiri merupakan utusan kerajaan Belanda sebagai pemimpin administratif di Surabaya.

Tanggal 19 September pagi. Setelah ramai kabar yang sampai ke seluruh pelosok Surabaya, ribuan anggota massa yang didominasi pemuda ramai mendatangi hotel tersebut. Pengibaran bendera Belanda, dianggap tidak menghormati harga diri Indonesia yang telah dinyatakan berdaulat. Hariyono dan Kusno, dua pemuda yang selalu tertulis dalam buku sejarah sekolah, berhasil menurunkan bendera Belanda dan merobek warna biru dari bendera Belanda tersebut.

photo
Bung Tomo
"Ya Allah, pemuda yang berada di atap itu telah menyobek warna biru, sehingga kini menjadi merah putih," itu yang ditulis Bung Tomo dalam salah satu bukunya: 10 November 1945, Kesaksian dan Pengalaman Seorang Aktor Sejarah.

Sutomo merupakan pemimpin sekaligus pembakar semangat arek-arek Suroboyo saat itu. Pidato Bung Tomo 10 November 1945 yang berapi-api, kini masih abadi dan terus menggema di museum Pahlawan yang tak jauh dibangun dekat sana.

Akhirnya setelah insiden di Hotel Yamato, pada 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara AFNEI. Sempat mengalami gencatan senjata, tetapi peperangan tak dapat dihindari hingga mencapai puncak 10 November 1945. Saat itulah terjadi pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA