Saturday, 19 Jumadil Akhir 1443 / 22 January 2022

Saturday, 19 Jumadil Akhir 1443 / 22 January 2022

Ummul Mukminin yang Dermawan

Sabtu 10 Nov 2018 07:00 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Agung Sasongko

Sedekah/Ilustrasi

Ia rajin bekerja agar bisa bersedekah,

Namun, pikiran Aisyah terhadap Saudah tersebut tidak terjadi. Beberapa tahun setelah wafatnya nabi, bukan Saudah yang meninggal menyusul nabi, melainkan Zainab bint Jahsy.Zainah adalah di antara ummul mukminin yang menyusul nabi pertama kali.

Barulah setelah peristiwa meninggalnya Zainab tersebut, para istri nabi menyadari bahwa panjang tangan yang dimaksud nabi bukan secara ukuran tangan, melainkan bermakna sering bersedekah kepada orang lain. Sedekah yang diberikan oleh Zainab pun berasal dari jerih payahnya sendiri.

Ternyata yang paling panjang tangannya di antara kami adalah Zainab karena dia bekerja dengan tangannya sendiri dan bersedekah dengan hasil pekerjaannya, kata Aisyah sebagai mana dikutip dari Muslimah daily.

Setelah nabi wafat, Khalifah Umar tetap memberikan tunjangan hidup kepada Zainab dan istri nabi lainnya. Namun, tunjangan tersebut tak sedikitpun digunakan Zainab untuk dirinya, tetapi disedekahkan kepada ke rabat, anak yatim dan orang miskin.

Zainab memiliki nama lengkap Zainab binti Jahsy bin Riab bin Ya'mar Al-Asadiyah. Ia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah Al-Mudhari. Ibu Zainab bernama Umayyah binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Ia mempunyai paman Hamzah dan Al- Abbas yang merupakan anak dari Abdul Muthalib.

Selain dikenal sebagai perempuan dermawan, ia juga sosok yang taat agama. Zainab adalah perempuan yang wara' dan mempunyai perawakan yang cantik.Nama asli Zainab adalah Barrah, tetapi nabi Muhammad menyebutnya Zainab.

Hal tersebut sebagaimana dinyatakan dalam hadis al-Bukhari-Muslim, dari Zainab binti Abu Salamah, dia berkata Nama ku adalah Barrah, akan tetapi Rasulullah kemudian memberiku nama Zainab, (HR.Muslim dalam al-Adab, 14/140).

Zainab merupakan perempuan yang penyabar dan mempunyai keimanan yang kuat. Ketika ia memeluk Islam di Makkah, ia mendapatkan siksaan dari kafir quraisy. Kendati demikian, ia tetap sabar dan mengharapkan ridha Allah. Sehingga, ia juga ikut hijrah bersama umat Muslim lainnya ke Habasyah. Ia kemudian kembali ke Makkah lalu hijrah ke Madinah.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA