Sabtu, 5 Rajab 1441 / 29 Februari 2020

Sabtu, 5 Rajab 1441 / 29 Februari 2020

Biarkan Saddil Ramdani Beristirahat

Sabtu 03 Nov 2018 13:48 WIB

Red: Israr Itah

Saddil Ramdani.

Saddil Ramdani.

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Bima Sakti memutuskan mencoret Saddil dan memanggil Andik Vermansah sebagai pengganti

REPUBLIKA.CO.ID,  oleh Israr Itah*

Kabar mengejutkan datang dari Lamongan. Winger Persela Lamongan Saddil Ramdani harus berurusan dengan pihak kepolisian akibat dugaan penganiayaan terhadap wanita teman dekatnya. Alhasil, Saddil tak bisa memenuhi panggilan pelatih timnas Indonesia Bima Sakti yang membutuhkannya untuk persiapan berlaga di Piala AFF 2018 pada tengah pekan depan.

Saddil sudah mengaku salah membuat temannya itu terluka fisik. Ia dengan jantan menyatakan siap bertanggung jawab. Hampir tak mungkin bagi Saddil untuk bergabung dengan timnas senior karena masalah hukumnya tersebut. Bima Sakti memutuskan mencoret Saddil dan memanggil Andik Vermansah sebagai pengganti.

---

Pelecehan atau penganiayaan, baik fisik maupun verbal, oleh atlet kepada pasangan atau teman wanitanya merupakan sisi kelam dunia olahraga yang sudah lama berlangsung dan terus menjadi bahan kajian. Sejumlah peneliti di Amerika Serikat menemukan fakta keterkaitan agresivitas atlet di lapangan saat berlatih dan bertanding dengan perilaku mereka di kehidupan sosial. Namun, mereka belum menemukan formula yang benar-benar jitu untuk mencegah ini. 

Para peneliti di negeri Paman Sam sana hanya menyarankan para pelatih untuk menjadikan ruang ganti mereka sebagai tempat untuk mengedukasi dan menyadarkan para atlet bahwa sifat agresif itu hanya berlaku saat berlatih atau bertanding. Di luar itu, para atlet harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sosial dan menghindari penyelesaian masalah dengan kekerasan, verbal atau fisik.

Para pengelola liga besar di AS (NBA-basket, NFL-sepak bola Amerika, NHL-hoki, dan MLB-bisbol) juga masih kewalahan untuk menghilangkan atau sekadar menekan angka penganiayaan oleh para atlet mereka. Kita mengetahui ada atlet sepak bola Amerika yang menyeret kekasihnya yang pingsan, pebasket yang mengasari istri mereka hingga bercerai, dan sederet kasus lain yang terus muncul dari tahun ke tahun.

Pengelola liga-liga ini pelan-pelan mengeluarkan code of conduct (pedoman perilaku) bagi atlet agar menghindari penganiayaan atau pelecehan. Namun aturan ini belum seragam dan masih menyisakan ruang lebar bagi para atlet hiperagresif ini untuk tidak jera dan mengulangi perbuatannya.

NBA yang paling detail dalam merumuskan aturan di lapangan, mulai cara berpakaian hingga hukuman atas pelanggar, saja mengaku masih kesulitan untuk membuat aturan terbaik untuk merespons masalah agresivitas atlet di luar lapangan. Sebab, ada sisi personal yang tidak bisa dijangkau pengelola liga terlalu jauh.

Kembali ke Saddil, saya jadi teringat dengan perbincangan dengan pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini beberapa waktu lalu. Ia menegaskan tekadnya untuk menghasilkan pemain yang tidak hanya jago di lapangan bola, tapi juga pribadi yang baik di luar lapangan. Menurut dia, itulah keberhasilan sesungguhnya seorang pelatih yang berkutat dengan para atlet muda yang hendak menuju usia dewasa.

Fakhri yang puluhan tahun menjadi pesepak bola profesional paham betul dengan sisi kelam olahraga yang digelutinya di Tanah Air. Banyak pemain tersandung oleh kasus terkait wanita. Sebagian kecil terkena jerat narkoba. Fakhri ingin para pesepak bola Indonesia di masa depan bisa menjadi role model di dalam dan luar lapangan dengan kepribadian mereka yang baik.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA