Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

AS Ringankan Sanksi Iran, Harga Minyak Turun

Sabtu 03 Nov 2018 13:32 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Friska Yolanda

Minyak

Minyak

Delapan negara diberi kelonggaran impor minyak dari Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak jatuh pada Jumat (2/11) dan memberikan kerugian mingguan lebih dari enam persen karena investor khawatir tentang kelebihan pasokan minyak mentah setelah penarikan Amerika Serikat (AS). AS masih mengizinkan delapan importir untuk tetap membeli minyak Iran untuk sementara. Kebijakan ini berlaku setelah AS mengeluarkan sanksi baru untuk Iran yang akan berlaku mulai Senin (4/11).

Minyak mentah Brent berjangka LCOc1 turun enam sen menjadi 72,83 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah AS CLc1 turun 55 sen untuk mengakhiri sesi di 63,14 dolar AS per barel, kehilangan 0,86 persen.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyatakan Washington telah memberi tahu layanan keuangan SWIFT yang berbasis di Brussels bahwa AS akan memutuskan hubungan dengan semua lembaga keuangan Iran yang akan masuk daftar hitam pada Senin (4/11). Dia menolak menyebutkan nama lembaga yang ditargetkan.

"Bagian dari kampanye ini bertujuan untuk mengurangi pendapatan rezim yang digunakannya untuk menyebarkan kematian dan kehancuran di seluruh dunia," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Pompeo mengatakan Washington akan mengeluarkan keringanan sementara kepada delapan importir minyak Iran hanya karena mereka telah menunjukkan pengurangan signifikan dalam pembelian minyak mentah dan kerja sama mereka di banyak bidang lainnya. Dua importir akan menghentikan impor dan enam lainnya akan sangat mengurangi impor. 

Dia kemudian mengatakan tujuan utamanya adalah untuk menghentikan semua ekspor minyak mentah Iran. "Kami pada akhirnya akan menghentikan ekspor minyak mentah Iran. Perlu beberapa bulan untuk menjalankannya," ujar Pompeo kepada Fox News, menurut transkrip wawancara yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri AS.

Iran mengatakan tidak terganggu atas diberlakukannya kembali sanksi AS, yang tidak hanya menargetkan sektor minyak dan gas yang vital tetapi juga industri pengiriman, pembangunan kapal, dan perbankan. "Amerika tidak akan bisa melakukan tindakan apa pun terhadap bangsa kami yang besar dan berani. Kami memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola urusan ekonomi negara," ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi.

Uni Eropa, Prancis, Jerman, dan Inggris, telah berusaha mempertahankan kesepakatan nuklir Iran agar tetap hidup. Mereka menyesalkan keputusan Washington untuk menerapkan kembali sanksi. Uni Eropa telah menciptakan mekanisme khusus yang akan menghindari sanksi keuangan AS terhadap Iran.

AS mampu menekan negara-negara lain untuk berhenti membeli minyak Iran di bawah undang-undang 2012 yang memungkinkan presiden untuk menghentikan bank-bank asing, termasuk bank-bank sentral, dari sistem keuangan AS kecuali mereka secara signifikan mengurangi pembelian.

Brian Hook, perwakilan khusus AS untuk Iran, mengatakan AS percaya pasokan minyak global akan melebihi permintaan tahun depan, sehingga lebih mudah bagi negara-negara lain untuk menghentikan impor minyak Iran.

Baca juga, AS Masih Izinkan 8 Importir Beli Minyak Iran

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA