Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Perkuat Ekonomi Syariah, BI Kembangkan Rantai Halal Regional

Sabtu 03 Nov 2018 05:52 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Gita Amanda

Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) Juda Agung dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo memberikan keterangan kepada media terkait kesepakatan IMFC di Nusa Dua, Bali pada Sabtu (13/10).

Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) Juda Agung dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo memberikan keterangan kepada media terkait kesepakatan IMFC di Nusa Dua, Bali pada Sabtu (13/10).

Foto: Republika/Ahmad Fikri Noor
Ini meliputi pengembangan ekosistem dari berbagai tingkatan usaha syariah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo mengatakan penguatan ekonomi dan keuangan syariah dapat dilakukan melalui pengembangan rantai nilai halal regional. Ini meliputi pengembangan ekosistem dari berbagai tingkatan usaha syariah, dari hulu ke hilir.

Di Kawasan Timur Indonesia (KTI), secara khusus, terdapat banyak potensi yang dapat dikembangkan. Seperti penerapan sistem pertanian terintegrasi, pengembangan produk makanan halal, pengembangan kain tenun dan produk kerajinan daerah, serta pengembangan pariwisata halal.

Penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) tahun 2018 menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan ekonomi syariah secara serentak di seluruh Indonesia, untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional. Acara mengangkat tema “Penguatan Ekonomi Syariah melalui Pengembangan Regional Halal Value Chain”, dan dilaksanakan di Balikpapan, Jumat (2/11) lalu.

Dalam sambutannya, Dody Budi Waluyo mengatakan potensi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah perlu didukung oleh penguatan ekosistem rantai nilai halal. Dalam hal ini, diperlukan skema business matching untuk mendorong terhubungnya sisi penawaran produk usaha syariah dengan sisi permintaan dari pasar domestik, regional, maupun pasar global.

"Selain itu, prospek perkembangan industri halal memerlukan adanya dukungan penguatan infrastruktur usaha halal, baik dari sisi hulu hingga hilir," katanya.

Saat ini, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang bermuara pada perlunya pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru serta upaya mengatasi defisit transaksi berjalan. Ekonomi dan keuangan syariah merupakan salah satu kunci meningkatkan pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan.

Untuk itulah, Indonesia terus berkomitmen terhadap pengembangan ekonomi syariah. Pada tahun 2018, Indonesia pun berhasil naik ke peringkat 10 dunia sebagai pelaku dalam ekonomi syariah, setelah setahun sebelumnya berada di peringkat 11. Kenaikan posisi Indonesia ini utamanya didukung oleh peringkat kinerja Indonesia dalam mendorong industri halal food.

Sebagai wujud dukungan Bank Indonesia terhadap pengembangan ekonomi syariah di Kalimantan Timur, BI memfasilitasi penandatanganan business matching antara PT Syam Surya Mandiri dengan Asosiasi Petambak Anggana dengan nilai nominal sebesar Rp 200 miliar. Dalam rangkaian kegiatan FESyar KTI, dilaksanakan pula Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) dengan penyerahan bantuan.

Yakni kepada Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan berupa 50 unit komputer, Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad AlBanjari berupa tempat wudhu dan meja belajar, Pondok Pesantren Modern Asysyifa Balikpapan berupa perlengkapan kelas, dan Pondok Pesantren Al Husna Balikpapan berupa 10 unit komputer beserta meja perlengkapannya.

Fesyar yang diselenggarakan di Balikpapan ini merupakan FESyar ketiga dari tiga rangkaian kegiatan FESyar menuju gelaran Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2018 di Surabaya yang akan dilaksanakan pada akhir tahun 2018.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA