Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Banjir Rendam 600 Rumah di Padang

Sabtu 03 Nov 2018 00:10 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya

Banjir

Banjir

Foto: Dok: PKPU
Banjir yang merendam rumah warga dengan ketinggian muka air bervariasi

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak Jumat (2/11) siang membuat sejumlah titik di kota tepi laut tersebut dilanda banjir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum, banjir sore ini melanda sejumlah kecamatan di Kota Padang, yakni Lubuk Kilangan, Lubuk Begalung, Bungus Teluk Kabung, Padang Selatan, Padang Utara, dan Pauh. 

Meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa, namun banjir merendam sekitar 600 unit rumah dengan ketinggian muka air bervariasi dari 80 cm hingga 1,5 meter. Selain itu, banjir juga menghanyutkan jembatan Baringin di Lubuk kilangan dan memutus dua jembatan lainnya. 

Debit air yang mengalir di banjir kanal Kota Padang juga meningkat drastis sejak pukul 16.00 WIB, membuat satu unit rumah roboh. Banjir kanal, atau disebut banda bakali oleh warga Padang, meluap lantaran hujan mengguyur wilayah Sumatra Barat sejak siang hari. 

Menurut pengakuan warga, luapan air banda bakali di kawasan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara kali ini merupakan yang terparah dalam 35 tahun terakhir. "Terakhir air banda bakali yang besar itu pada tahun 1983 kalau tidak salah. Tapi tidak sebesar ini," ujar Amir, salah satu warga Alai Parak Kopi, Jumat (2/11). 

Satu unit rumah yang roboh dindingnya dilaporkan dimiliki oleh Wet, warga RT III RW XI Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Air sungai dilaporkan mulai naik sekitar pukul 16.00 WIB sore. 

Wet menuturkan, derasnya luapan banda bakali cukup kuat untuk merobohkan dinding rumahnya. "Kejadian ini membuat saya terguncang," katanya.

Sejumlah warga ikut turun tangan untuk membantu Wet dan keluarga mengangkat puing-puing rumahnya dan mengamankan barang-barang yang masih bisa digunakan. Rumah yang tak bisa ditinggali membuat Wet dan keluarganya mengungsi ke rumah kerabatnya. Ia juga berharap pemerintah mengirimkan bantuan untuk meringankan bebannya. 

Ketua RW 11 Kelurahan Alai Parak Kopi, Yurdin, berharap air lekas surut sehingga warga bisa kembali masuk ke rumahnya. Saat ini, lanjutnya, sebagian besar warga memilih mengungsi karena rumah masih tergenang. 

Ia memprediksi kerugian yang dialami keluarga yang rumahnya roboh sebesar puluhan juta rupiah. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menurunkan sejumlah tim untuk membantu penanganan pascabencana. BPBD juga mengantisipasi bila hujan deras kembali terjadi dan memaksa lebih banyak lagi warga mengungsi. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA