Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Harga Minyak Turun Dipicu Kenaikan Pasokan Global

Kamis 01 Nov 2018 08:40 WIB

Red: Friska Yolanda

Ilustrasi pengeboran lepas pantai.

Ilustrasi pengeboran lepas pantai.

Foto: AP
Kenaikan produksi datang tepat sebelum sanksi-sanki baru AS terhadap Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak turun pada akhir perdagangan Rabu (31/10) dan membukukan kinerja bulanan terburuk sejak pertengahan 2016. Hal ini dipicu petunjuk meningkatnya pasokan minyak mentah global. Namun demikian, kerugian dibatasi oleh tanda-tanda permintaan bahan bakar AS yang kuat.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk penyerahan Desember yang kadaluwarsa pada Rabu (31/10), turun 44 sen AS menjadi 75,47 dolar AS per barel. Kontrak Januari yang lebih aktif turun 91 sen AS menjadi 75,04 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Desember, turun 87 sen AS menjadi 65,31 dolar AS per barel.

Kedua patokan berada lebih dari 10 dolar AS per barel di bawah tertinggi empat tahun yang dicapai pada 3 Oktober. Keduanya mencatat kinerja bulanan terburuk mereka sejak Juli 2016, dengan Brent jatuh 8,8 persen dan WTI turun 10,9 persen selama Oktober.

Sentimen investor di seluruh kelas aset-aset berisiko, seperti ekuitas dan energi, berbalik negatif selama bulan ini karena ketegangan perdagangan AS-China memicu kekhawatiran permintaan. Penekan sentimen pasar pada Rabu (31/10) adalah tanda-tanda meningkatnya pasokan global. 

Amerika Serikat dan produsen utama lainnya Rusia dan Arab Saudi memproduksi 33 juta barel per hari pada September. Produksi minyak Rusia telah mencapai 11,41 juta barel per hari pada Oktober, tingkat yang tidak terlihat sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.

Kenaikan produksi datang tepat sebelum sanksi-sanki baru AS terhadap Iran, yang akan mulai berlaku pada 4 November, yang diperkirakan akan mengurangi pasokan. "Ada persepsi bahwa ada cukup minyak di pasar saat ini untuk mengatasi (kekurangan) sanksi-sanksi Iran," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago.

Washington telah menjelaskan kepada para pelanggan Teheran bahwa pihaknya meminta mereka untuk berhenti membeli minyak mentah Iran dari tanggal tersebut. Namun, pada Rabu, penasehat keamanan nasional AS John Bolton mengatakan bahwa sementara Amerika Serikat ingin menerapkan tekanan maksimum pada Iran dengan sanksi atas ekspor minyak mentahnya, negara itu tidak ingin merugikan negara-negara yang merupakan teman dan sekutu yang bergantung pada minyak.

Impor minyak mentah Iran oleh pembeli-pembeli utama di Asia mencapai terendah dalam 32-bulan pada September. Cina, Korea Selatan dan Jepang secara tajam mengurangi pembelian mereka menjelang sanksi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA