Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

BKF: Pelemahan Rupiah Jadi Pendorong Potensi Ekspor

Kamis 01 Nov 2018 07:48 WIB

Red: Friska Yolanda

Pewarta memotret layar digital saat konferensi pers Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang RUU APBN 2019 di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Pewarta memotret layar digital saat konferensi pers Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang RUU APBN 2019 di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini masih di bawah nilai wajar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini di bawah nilai wajar (undervalued). Kondisi ini adalah sumber potensi yang harus dimanfaatkan untuk mendorong ekspor.

"Kurs kita, kalau kita lihat di spot saat ini Rp15.200 per dolar AS, tapi perbandingan kurs dengan negara lain dalam konteks daya beli, sesungguhnya kurs kita undervalued yang ditunjukkan dengan Real Effective Exchange Rate atau REER yang di bawah 100," ujar Suahasil dalam jumpa pers di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (31/10) malam.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore lalu menguat sebesar 36 poin menjadi Rp 15.199 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 15.235 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu (31/10) lalu, tercatat mata uang Rupiah menguat menjadi Rp 15.227 dibanding sebelumnya (30/10) di posisi Rp 15.237 per dolar AS.

"Kalau ia semakin jauh undervalued-nya, ada insentif untuk investor masuk ke mata uang yang undervalued tadi. Ini kemudian di sisi lain kalau undervalued seperti ini, itu juga disinsentif untuk melakukan impor dan harusnya juga ada insentif untuk melakukan ekspor," kata Suahasil.

Dalam apbn 2019 yang baru saja disahkan Rabu kemarin dalam Rapat Paripurna DPR, asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yaitu Rp 15.000 per dolar AS. Asumsi kurs mengalami perubahan signifikan dari draf awal yang ditetapkan sebesar Rp 14.400 per dolar AS, mengingat masih tingginya ketidakpastian global pada 2019.

"Tahun depan kita yakin kurs akan bergerak lagi. Tapi angka Rp15.000 itu sebagai angka rata-rata dalam keseluruhan tahun," ujar Suahasil.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, pada 2019 mendatang ekonomi ditargetkan tumbuh 5,3 persen. Untuk mencapai angka tersebut, konsumsi Rumah Tangga (RT) harus tumbuh 5,1 persen, konsumsi pemerintah 5,4 persen, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7 persen. Sedangkan, ekspor dan impor masing-masing harus tumbuh 6,3 persen dan 7,1 persen.

"Ekspor akan sedikit melemah dan impor juga akan menurun karena upaya kita mengendalikan current account deficit," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA