Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Petobo Jadi Tempat 'Wisata' Warga

Selasa 30 Oct 2018 00:09 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Friska Yolanda

Dampak likuefaksi yang terjadi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah menarik minat masyarakat untuk berkunjung. Masyarakat berbondong-bondong datang dan mengabadikan dampak bencana tersebut, Senin (29/10).

Dampak likuefaksi yang terjadi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah menarik minat masyarakat untuk berkunjung. Masyarakat berbondong-bondong datang dan mengabadikan dampak bencana tersebut, Senin (29/10).

Foto: Republika/Umi Nur Fadhilah
Warga tak menyangka fenomena likuefaksi akan terjadi di Palu.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Bencana likuefaksi yang terjadi di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), rupanya mengundang rasa penasaran masyarakat setempat. Hal itu lantaran bencana tersebut menghilangkan daerah Petobo dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Genap sebulan bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi pada 28 September 2018 berlalu. Masyarakat Kota Palu, Donggala, dan Sigi mulai berbenah dan bangkit.

Salah satu hal unik yang dilakukan warga setempat adalah berduyun-duyun melihat bekas bencana yang menerjang Sulteng. Mulai dari menyusuri dampak gempa, melihat sisa kemegahan Jembatan Kuning, mengenang keindahan Masjid Argam Bab Al Rahman atau Masjid Terapung atau Masjid Kubah Tujuh Warna di Pantai Talise. Termasuk, menyusuri sisa likuefaksi di Balaroa dan Petobo.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id, masyarakat ramai mengunjungi Petobo yang menjadi lokasi pencairan tanah. Mereka datang bersama keluarga atau rekan dan mengabadikan kondisi Petobo dengan ponsel pintar.

Warga asal Toli-toli, Nursiyah mengatakan sengaja ke Palu untuk melihat dampak likuefaksi di Petobo dan Balaroa. Dia datang bersama suaminya.

"Iya lihat-lihat saja, penasaran," kata dia saat berada di Petobo, Senin (29/10).

Selama ini, Nursiyah hanya melihat dampak bencana Sulteng melalui stasiun TV. Dia tak pernah diizinkan suaminya mengunjungi Palu. Padahal, dia memiliki tiga kerabat yang tinggal di Petobo. Sampai sekarang, dia tak pernah mendengar kabar kerabatnya.

"Baru liat di TV, langsung menangis saja, mata bengkak sudah. Kasihan sekali," ujar dia.

Nursiyah mengaku tak pernah menyangka ada bencana likuefaksi yang bisa menghancurkan suatu daerah. "Tak menyangka bisa ada seperti ini," jelasnya.

Warga Palu bernama Hayati datang bersama teman-temannya ke Petobo. Dia tidak tinggal di daerah itu, tetapi memiliki rekan kerja yang tinggal di sana.

"Ini pertama kali naik ke atas," ujar dia.

Sebelumnya, Hayati pernah mengunjungi Petobo saat masa tanggap darurat dan pencarian korban. Namun, dia tidak naik ke gundukan dampak likuefaksi. Dia hanya melihat dari bawah saja. Hayati juga tidak menyangka ada bencana pencairan tanah yang menenggelamkan rumah-rumah. 

Baca juga, Detik-Detik Likuefaksi dalam Ingatan Seorang Warga Sigi

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA