Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Kembangkan Program Pemberdayaan

Rumah Amal Rintis Muallaf Care

Rabu 31 Oct 2018 18:52 WIB

Red: Agus Yulianto

Direktur Rumah Amal Muhammad Kamal Muzakki (kiri) menyampaikan paparan saat berkunjung ke Kantor Republika, Jakarta, Rabu (31/10).

Direktur Rumah Amal Muhammad Kamal Muzakki (kiri) menyampaikan paparan saat berkunjung ke Kantor Republika, Jakarta, Rabu (31/10).

Foto: Republika/Prayogi
Rumah amal juga membentuk tim khusus untuk menjalankan program muallaf care.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski terbilang sebagai lembaga zakat baru, Rumah Amal telah membuktikan keseriusannya dalam pemberdayaan umat melalui program Muallaf Care. Walaupun program ini baru berjalan selama setahun terakhir, namun Rumah Amal telah berhasil mengislamkan dan membina puluhan muallaf. 

“Kita kerja sama dengan Masjid Lautze (masjid etnis Tionghoa) di Bandung. Jadi, di sana kita adakan pembinaan pembacaan syahadat dan pendalaman agama,” kata Direktur Rumah Amal, Muhammad Kamal Muzakki, saat berkunjung ke Republika.co.id, Rabu (31/10). 

Rumah amal juga membentuk tim khusus untuk menjalankan program muallaf care. Dimana tim akan mengurus segala keperluan program, mulai dari mendatangkan pengajar (ustad atau kyai), hingga menggelar kelas binaan mulai dari pembinaan tahsin, fikih dasar, diskusi agama dan lainnya. 

Rumah amal sendiri merupakan lembaga zakat berbasis kampus yang terdiri dari mahasiswa berbagai universitas di Bandung, lalu menetapkan diri sebagai lembaga zakat independen pada 2017 lalu. Sejak berdiri dibawah naungan Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) 2007 silam, Rumah Amal memang memfokuskan diri pada pemberian beasiswa kepada anak-anak dhuafa. 

Beasiswa perintis, kata Kamal, adalah salah satu program unggulan, dimana Rumah Amal memberikan beasiswa kepada ratusan siswa setiap tahunnya. Melalui beasiswa perintis, rumah am memberikan bantuan berupa bimbingan gratis selama tujuh bulan bagi siswa yang membutuhkan.

Tahun ini, Rumah Amal memberikan keistimewaan dengan adanya beasiswa full bagi setiap peserta bimbingan yang mampu diterima di ITB. Menurut Kamal, hal ini yang membuat membeludaknya jumlah pendaftar. Tahun ini, lanjut dia, jumlah penerima beasiswa sudah melampaui target, baik mereka yang diterima di ITB maupun PTN lain. 

Sebenarnya, hal yang ditonjolkan dari program ini bukan nominal bantuan yang diberikan, tapi pembinaan yang kami berikan. Dengan harapan semangat mereka (calon penerima beasiswa) untuk melanjutkan pendidikan kembali terpacu meski dari latar belakang ekonomi yang rendah. 

“Selain itu masih banyak beasiswa lain, beasiswa imam muda. Di situ kita seleksi siswa yang bisa mengaji dengan baik dan memiliki pengetahuan agama yang bagus. Tapi beasiswa ini hanya dikhususkan bagi mahasiswa PTN aktif di Jawa Barat,” ujar dia. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA