Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Korea Selatan Minta AS Longgarkan Sanksi Iran

Selasa 30 Oct 2018 13:21 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolanda

Kilang minyak Iran.

Kilang minyak Iran.

Foto: Iranian Presidency Office via AP
Perusahaan Korsel telah membatalkan kontrak proyek energi dengan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan (Korsel) meminta Amerika Serikat (AS) untuk melonggarkan sanksi yang mereka berikan kepada Iran. Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan permintaan ini dilakukan untuk mengurangi dampak sanksi tersebut terhadap perusahaan-perusahaan mereka. 

Korsel salah satu sekutu AS di Asia yang menjadi konsumen terbesar minyak Iran. Mereka telah menghentikan pembelian minyak dari negara Timur Tengah tersebut. Perusahaan mereka juga telah banyak membatalkan beberapa kontrak proyek energi dengan Iran karena kesulitan mendapatkan modal. 

Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung wha sudah menelpon Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo membahas hal ini. Ia meminta AS untuk melonggarakan sanksi kepada Iran. 

"Menteri Kang meminta pihak AS untuk memberikan fleksibilitas maksimum sehingga Korea Selatan bisa mengamankan kebijakan pengecualian yang dapat mengurangi dampak buruk terhadap perusahaan-perusahan kami," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Korsel, Selasa (30/10). 

Pompeo mengatakan ia akan mencatat posisi Korsel tersebut. Ia juga berjanji akan membahas persoalan ini lagi. Masalah pengeculian ini menjadi tanda terbaru renggangnya hubungan Korsel dengan AS. 

Sebelumnya Korsel juga sempat berbeda pendapat dengan AS tentang sanksi yang mereka berikan kepada Korea Utara. Korsel dan Jepang sudah berbicara dengan AS untuk menghindari dampak yang semakin meluas terhadap sanksi yang diberikan Negeri Paman Sam terhadap Iran. 

Kedua negara tersebut berhasil melonggarkan sanksi AS terhadap Iran pada tahun 2016 lalu. Tapi sejak Donald Trump menjadi presiden, sanksi AS terhadap Iran semakin berat. 

Korsel yang sebelumnya konsumen minyak Iran harus memotong pembelian mereka minyak karena semakin mahalnya harga minyak di Timur Tengah. Risiko lain yang dihadapi perusahaan-perusahaan Korsel terhadap sanksi ini mereka kesulitan mendapatkan dan membayar proyek energi di Iran dengan dolar AS. 

Hyundai Engineering & Construction membatalkan kontrak proyek pembuatan komplek petrokimia senilai 521 juta dolar AS karena masalah pembiayaan. Sebelumnya perusahaan Korsel lainnya Daelim Industrial juga membatalkan kontrak senilai 2,23 triliun dolar AS karena persoalan yang sama. 

Iran sama sekali tidak melakukan impor minyak pada September lalu. Angka terendah sejak 2012 lalu. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA