Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Kairo dan Lobi Ikhwanul Muslimin untuk Kemerdekaan Indonesia

Selasa 30 Oct 2018 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

H Agus Salim, Ketua Delegasi Republik Indonesia, bersama H. Rasyidi menyampaikan terima kasih bangsa Indonesia kepada Hasan Al-Banna (Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun)yang kuat sekali menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sumber gambar: Hassan, M.Z. 1980. Diplomasi revolusi Indonesia di Luar Negeri. Bulan Bintang. Jakarta. halaman 220.

H Agus Salim, Ketua Delegasi Republik Indonesia, bersama H. Rasyidi menyampaikan terima kasih bangsa Indonesia kepada Hasan Al-Banna (Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun)yang kuat sekali menyokong perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sumber gambar: Hassan, M.Z. 1980. Diplomasi revolusi Indonesia di Luar Negeri. Bulan Bintang. Jakarta. halaman 220.

Foto: wikipedia
Hatta: Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo.

Oleh: Harun Husein, Jurnalis Republika

Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir. Demikian tertulis dalam buku sejarah kemerdekaan Indonesia. Tapi, buku-buku sejarah umumnya tak menjelaskan lebih lanjut, mengapa dan bagaimana Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.

Pengakuan dari negara lain, merupakan syarat penting berdirinya sebuah negara. Dan, untuk ini, bangsa ini pantas berterima kasih kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Sebab, mereka lah yang melobi agar pemerintahnya mendukung kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Ikhwanul Muslimin yang saat itu jaringannya telah tersebar, juga menggalang dukungan negara-negara Arab lainnya untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Dan, setelah Mesir, negara-negara Timur Tengah lain pun mendukung kemerdekaan Indonesia.

Para pemimpin Mesir dan negara-negara Arab saat itu, bahkan membentuk Panitia Pembela Indonesia. Mereka mendorong pembahasan soal isu Indonesia di berbagai lembaga internasional, seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan Liga Arab.

Dalam bukunya, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Zein Hassan menulis bahwa pengakuan kemerdekaan itu, pada akhirnya membuat posisi Indonesia setara dengan negara-negara lainnya --termasuk Belanda—dalam perjuangan diplomasi internasional. Proklamator Bung Hatta pun menyatakan, “Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo. Karena, dengan pengakuan mesir dan negara- negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

photo

Bung Syahrir ditemani Mr Nazir Pamoncak dan MZ Hasan menyampaikan terima kasih terhadap sokongan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Hasan Al-Banna atas kemerdekaan Indonesia. (Sumber gambar: Hassan, M.Z. 1980. Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri. Bulan Bintang. Jakarta. Halaman 277)

Peran Ikhwanul Muslimin dalam kemerdekaan Indonesia, itu, masih dapat ditelusuri jejaknya dalam artikel bertajuk Ikhwanul Muslimin di Wikipedia. Di sana dicantumkan foto-foto tokoh bangsa seperti Sjahrir dan H Agus Salim yang menemui Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna, untuk menyampaikan terima kasih atas dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia.

Saat itu, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, Ikhwanul Muslimin kerap mengerahkan massa untuk berdemonstrasi, termasuk menghalau kapal-kapal Belanda yang melewati Terusan Suez. Terutama, saat Indonesia sedang dalam revolusi fisik melawan kembalinya Belanda. ■

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA