Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

TGB Usulkan Indonesia Tiru Afsel dalam Sengketa HAM

Kamis 25 Oct 2018 22:46 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ketua Tunas Generasi Bangsa, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi

Ketua Tunas Generasi Bangsa, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Syarat penyelesaian sengketa HAM mesti diawali kemauan semua pihak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua lembaga Tunas Generasi Bangsa Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menyampaikan kepeduliannya terhadap isu Hak Asasi Manusia (HAM). Ia mengusulkan pemerintah Indonesia meniru pemerintah Afrika Selatan (Afsel) dalam hal penyelesaian sengketa HAM.

TGB mengatakan sebenarnya tidak hanya Indonesia yang punya sejarah pelanggaran HAM. Negara lain juga ada yang mengalami masalah serupa.

Namun sejumlah bangsa itu tidak tinggal diam, melainkan memformulasikan penyelesaian konflik. Salah satu negara yang patut menjadi contoh ialah Afsel.

"Mungkin contohnya Afsel dengan komisi rekonsiliasi. Kita ingin tau apa yang terjadi dan semua pihak harus saling memaafkan," katanya dalam diskusi di kantor Tunas Generasi Bangsa pada Kamis, (25/10).

Ia menekankan Indonesia merupakan bangsa dengan kearifan lokal. Bila Afsel saja bisa menyelesaikan masalah HAM di masa lalu, ia optimistis Indonesia juga bisa melakukannya.

"Afsel saja bisa kok dan terbukti selesaikan masalah HAM. Kita kenapa nggak ada instrumen penyelesaian? Asalkan terpenuhi dua hal, kebenaran dan rekonsiliasi," jelasnya.

Menurutnya, syarat penyelesaian sengketa HAM mesti diawali dari kemauan semua pihak. Menurutnya, masalah HAM seharusnya dicarikan solusi agar tidak berkepanjangan.

"HAM itu dasar seperti berupa hak hidup, mengganggu kalau tidak diselesaikan (masalahnya). Kita bangun instrumen terkait pengungkapan kebenaran selesai di titik itu biar enggak terlalu dalam," ungkapnya.

Diketahui, Afsel sempat menghadapi sejarah kelam dimana adanya politik atas dasar ras atau aparteid. Kelompok kulit putih disana lebih mendominasi dari kelompok kulit hitam. Butuh waktu panjang bagi Afsel agar bangkit meninggalkan politik aparteid.

Di sisi lain, Indonesia melewati berbagai fase dimana diduga ada pelanggaran HAM disana. Salah satunya pada peristiwa kekerasan dan penculikan terhadap aktivis penentang orde baru. Sampai saat ini, dalang di balik tindakan itu belum terungkap. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA