Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

PUPR Klaim Banyak Bangun Infrastruktur di Timur

Kamis 25 Okt 2018 09:22 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Friska Yolanda

Jalan trans Papua

Jalan trans Papua

Foto: PUPR
Pembangunan meliputi bendungan, irigasi hingga jalan.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Dalam empat tahun, infrastruktur berperan pada pengurangan ketimpangan antar wilayah yang dapat dilihat dari terus turunnya angka gini rasio dari 0,414 pada 2014 menjadi 0,389 pada Maret 2018. Itu menjadi bukti pembangunan infrstruktur yang dilakukan bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing, namun juga pemerataan hasil-hasil pembangunan. 

"Di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kementerian PUPR membangun bendungan dan embung untuk mengatasi krisis air yang dialami beberapa provinsi seperti Kaltim, Kaltara, NTT dan NTB," Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat menjadi pembicara kunci pada Festival Kawasan Timur Indonesia di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (24/10). 

Pembangunan bendungan juga untuk mendukung produktivitas lahan pertanian seperti Sulsel sebagai salah satu provinsi lumbung pangan nasional yang memiliki hamparan sawah yang luas. Dari 65 bendungan yang dibangun pihaknya pada periode 2015-2019, sebanyak 31 bendungan berada di Kawasan Timur Indonesia. Di Pulau Kalimantan dibangun lima bendungan yakni Teritip yang sudah rampung, Marangkayu, Tapin, Lambakan dan Riam Kiwa. Di Pulau Sulawesi dibangun sembilan bendungan yakni Karalloe, Lolak, Kuwil Kawangkoan, Ladongi, Pamukkulu, Bolanggo Hulu, Passeloreng, Jenelata dan Pelosika. 

Di Bali, dibangun tiga bendungan yakni Titab, Sidan dan Tamblang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat tujuh bendungan yakni Raknamo, Rotiklod, Napun Gete, Temef, Mbay, Manikin dan Kolhua. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) dibangun lima bendungan yakni Tanju, Mila, Bintang Bano, Beringin Sila dan Meninting. Di Provinsi Papua dan Maluku dibangun masing-masing satu bendungan yakni Bendungan Digoel dan Way Apu.

"Luas irigasi di Indonesia 7,1 juta hektare, dimana baru 11 persen yang mendapat jaminan air dari bendungan. Tambahan 65 bendungan akan meningkatkan luas irigasi yang mendapat air dari bendungan menjadi 19 persen sehingga produktivitas lahan pertanian naik. Petani dapat menanam dua sampai tiga kali musim tanam," ujar Basuki. 

Pembangunan kawasan perbatasan juga menjadi prioritas Kementerian PUPR dalam empat tahun terakhir. Pembangunan jalan perbatasan RI-Timor Leste di NTT sepanjang 176,2 kilometer (km) telah rampung. Jalan perbatasan di Kalimantan dari panjang 1.906 km telah tembus 1.692 km. Di Papua, jalan perbatasan sudah tembus 909 km dari total 1.098 km. 

"Jalan perbatasan kami targetkan tembus seluruhnya pada akhir 2019. Kami dibantu TNI AD saat membuka hutan dan membuat badan jalan. Setelah itu Kami lanjutkan konstruksi jalannya. Tantangan lainnya di Papua adalah kondisi alam berupa pegunungan," katanya. 

Selain konektivitas di perbatasan, Kementerian PUPR telah menyelesaikan tujuh Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yakni Aruk, Entikong dan Badau di Kalimantan, Wini, Motaain dan Motamasin di NTT dan Skouw di Papua. "Setiap PLBN akan dilengkapi dengan bangunan pasar yang saat ini dalam tahap konstruksi. Kawasan perbatasan akan menjadi embrio pusat pertumbuhan ekonomi baru. Seperti di Skouw, transaksi yang dilakukan dengan warga Papua Nugini tidak hanya sekedar makanan kecil namun juga emas," terang Basuki. 

Kementerian PUPR juga membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui program rumah khusus, bantuan stimulan rumah swadaya, rumah susun dan PSU. Misalnya rumah khusus yang dibangun bagi penduduk di Asmat, para pengungsi eks Timor Timor di Belu dan rumah nelayan di berbagai wilayah. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA