Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Erdogan: Masjid Bukan Hanya Tempat Berdoa

Selasa 16 Oct 2018 08:46 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: Presidential Press Service via AP
Erdogan meminta mufti aktif melawan tayangan TV yang bersifat klenik dan kebohongan.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL-- Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan meminta mufti, pemimpin agama di Turki dari Direktoriat Agama, untuk lebih berperan aktif menangkal dan melawan TV yang berisi klenik dan kebohongan. Erdogan mengatakan para mufti harus berperan memberikan informasi agama ke publik.

"Ketika mufti tidak mengambil inisiatif, (platform ini) ini kosong, berisi orang-orang yang percaya takhayul dan pembawa acara membawakan acara musik dan tari-tarian," kata Erdogan, kepada para mufti di Kompleks Presiden Turki di Ankara, seperti Hurriyet Daily News, Selasa (16/10).

Walaupun tidak menyinggung, Adnan Oktar, tokoh agama kontroversial di televisi, dalam pidatonya tapi banyak media Turki yang menilai Erdogan merujuk pada Oktar. Oktar yang dulu dikenal dengan nama Harun Yahya sudah ditangkap pada Juli lalu bersama banyak pengikutnya. Oktar membawakan acara di stasiun televisinya A9.

Acara itu mendiskusikan nilai-nilai Keislaman tapi acara tersebut menampilkan tari-tarian perempuan muda yang disebut 'kitten'. Acara tersebut direkam di kompeks rumah mewah Harun Yahya. Acara itu menggabungkan khotbah Agama dengan tari-tarian erotis.

Baca juga, Harun Yahya Disebut Kerap Menyiksa Wanita Pengikutnya.

"Kita seharusnya tidak membuat masjid-masjid hanya menjadi tempat untuk berdoa, lalu semua orang bubar dan menutup pintu, ini hal yang paling tidak adil yang bisa kita lakukan untuk atap suci yang merupakan rumah Tuhan, ini yang membuat masjid harus selalu terbuka," tambah Erdogan.

Dalam pidatonya ini Erdogan juga menyinggung soal FETO, organisasi oposisi pemerintah yang dipimpin Fethullah Gulen. Erdogan yakin Gulen dan kelompoknya yang telah mendalangi kudeta gagal pada 2016 lalu.

"Perjuangan nyata melawan FETO hanya dilakukan pada masa jabatan kami, tapi mari saya beritahu, kami pun terlambat, sayangnya kami harus membayar harga atas keterlambatan ini," kata Erdogan.

Erdogan mengatakan jika perlawan terhadap FETO dilakukan sejak pemberontakan yang mereka lakukan kepada pemerintah dan pengusaha pada bulan Desember 2013 maka upaya kudeta tahun 2016 bisa dicegah. Pada 17 sampai 25 Desember 2013 tokoh-tokoh FETO sudah ditangkap karena diduga mencoba mengguling pemerintah Turki terpilih.

"Turki harus bisa menerima kritik pada diri sendiri dengan hati yang terbuka atas pengkhianatan 15 Juli. faktanya ancaman yang dilakukan orginasasi ini sudah bertahun-tahun tidak diperhatikan dengan sensitif," kata Erdogan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA