Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Jokowi Kembali Singgung Game of Thrones dalam Pidatonya

Senin 15 Oct 2018 12:30 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Muhammad Hafil

Joko Widodo (Jokowi)

Joko Widodo (Jokowi)

Foto: Foto : MgRol112
Pesan moral yang disampaikan Jokowi relevan untuk pemimpin dunia saat ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menyinggung soal Game of Throne dalam pidatonya saat sidang terbuka senat Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam rangka Lustrum XIII UKI, Senin (15/10). Jokowi menyampaikan, pidatonya tersebut tak hanya memberikan pesan moral kepada para pemimpin dunia, tetapi juga para pemimpin dan masyarakat dalam negeri, terlebih saat ini Indonesia telah memasuki tahun politik.

"Pesan moral yang saya sampaikan tidak hanya relevan dalam pemimpin dunia saat ini, tapi juga tepat kita sampaikan kepada masyarakat, pemimpin-pemimpin kita dalam negeri, terutama elite-elite yang memperjuangkan kepentingannya," ujar Jokowi.

Ia menyadari, konstetasi politik ini tak terlepas dari kompetisi dan rivalitas. Kendati demikian, kata dia, kompetisi dan rivalitas harus dibangun di atas fondasi yang tak saling menjatuhkan dan tak menimbulkan kegaduhan, permusuhan, kebencian, dan tak saling mencela.

"Tidak harus saling memfitnah. Kontestasi tidak boleh menimbulkan kerusakan. Dan, kontestasi tidak boleh mengorbankan fondasi kebangsaan kita," kata dia menjelaskan.

Jokowi mengatakan, Indonesia memiliki fondasi sosial dan politik berupa stabilitas dan keamanan, serta toleransi dan persatuan. Sedangkan, fondasi ekonomi berupa kepercayaan internasional dalam berusaha dan bekerja.

"Rakyat kita harus merayakan kontestasi ini dengan kegembiraan, ini sering saya sampaikan yang diwarnai oleh narasi-narasi sejuk, dan ide-ide kemajuan, gagasan untuk kemajuan, program-program untuk Indonesia maju," ujar Jokowi.

Presiden menilai, perayaan perbedaan pilihan politik secara dewasa dan matang justru akan memperkokoh persatuan bangsa. Hal inilah yang menjadi tujuan dalam konstetasi politik.

"Saya ingin menyadarkan pada bapak-ibu saudara-saudara sekalian negara kita ini negara besar dengan banyak perbedaan. Beda suku, agama, suku, adat, bahasa, semuanya berbeda kita," katanya.

Jokowi menjelaskan, dalam pidatonya di IMF-Bank Dunia itu, ia mengibaratkan kondisi dunia saat ini layaknya film Game of Throne. Sebab, ekonomi dan politik dunia saat ini diwarnai dengan pertarungan antara negara berkekuatan besar.

Saat salah satu negara elite tengah berjaya, yang lainnya justru mengalami kemunduran dan kehancuran. Bahkan, saat mereka fokus untuk melawan satu dengan yang lain, mereka tak sadar datangnya ancaman yang lebih besar, seperti perubahan iklim, terorisme global, dan juga menurunnya ekonomi global.

Presiden pun menegaskan, dalam pidatonya itu, ia ingin menyampaikan pesan moral yakni penderitaan yang tercipta karena konfrontasi dan perselisihan antara negara-negara besar.

"Sebenarnya pesan moral utama yang ingin saya sampaikan pada saat itu adalah bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan. Bukan hanya yang kalah, namun juga yang menang. Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan diratapi baru keduanya sadar. Tapi, sudah terlambat," kata Jokowi.

Ia menekankan, kemenangan dan kekalahan dalam perang akan menghasilkan hal yang sama, yakni dunia yang porak poranda. Karena itu, Jokowi mengingatkan agar tak melakukan kerusakan untuk menghasilkan kemenangan.

"Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Itulah pesan moral yang ingin saya sampaikan di saat annual meeting itu," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA