Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Sara'dasi, Kebo Ijo, Machiavelli: Bila Kuasa Diperebutkan

Jumat 12 Oct 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Machiavelli yang kemudian di lambangkan sebagai pangeran kegelapan.

Machiavelli yang kemudian di lambangkan sebagai pangeran kegelapan.

Foto:
Sampai zaman kapanpun kepalsuan, kebohongan, berita hoax tak akan menang.

Pada kebudayaan Jawa juga punya kisah yang sama. Yakni kisah 'Keris Bertuah Buatan Empu Gandring'. Kisah ini terjadi pada masa kerajaan Singasari dan imbasnya terus terjadi hingga berdirinya kerajaan Singasari. Dulu kisah ini sangat terkenal melalui  kisah silat jawa karya SH Mintarja: Pelangi Di Atas Singasari dan juga 'Sepasang Ular Naga Di Satu Sarang'.

Alkisah, ada seorang jagoan bernama Ken Arok. Dia sangat sakti dan menguasai kelompok preman. Saking hebatnya Ken Arok sampai dikatakan anak Dewa Brahma, bertubur kekar, tak mempan senjata, jagoan berkelahi, mempunya tangan yang kuat, dan berkulit kemerahan. Pokoknya serba hebat.

Aksi Ken Arok makin menjadi ketika dia bergerak tak hanya ingin menjadi perampok atau pembegal saja. Dia bosan jadi orang urakan. Dan kemudian dia beralih ingin menjadi penguasa atau main politik. Maka ditinggalkanlah tempat tinggalnya di Padang Perantauan. Dia mengabdi kepada Akuwu (Adipati) Tumapel, Tunggul Ametung.

Tentu saja sebagai jagoan dia segera mendapat tempat terhormat. Ken Arok segera menduduki jabatan penting sekelas panglima perang. Tapi jabatan ini pun tak membuatnya puas. Kali ini dia ingin jadi bupati dan memperistri permaesuri Tunggul Ametung, yang bernama Ken Dedes.

Lalu apa akalnya untuk menggapai cara itu? Ken Arok tahu jawabnya, yakni memesan keris kepada Empu Gandring yang sakti. Maka dia pun ke sana dan memesan keris tersebut. Karena dia pesan oleh seorang panglima perang, maka Empu Gandring mengiyakan sembari meminta beberapa waktu untuk membuatnya.

Tapi Ken Arok tak sabaran. Dalam beberapa hari ke depan, dia kembali mendatangi Empu Gandring yang tengah membuat keris pesanannya. Dia marah karena keris baru setengah diselesaikan. Saking marahnya keras yang belum selesa itu ditusukan ke dada Empu Gandring sehinga tewas. Namun sebelum tewas, Empu Gandring sempat mengeluarkan kutukan bahwa keris itu akan membunuh Ken Arok beserta tujuh keturunanya. Sebuah kutukan menggidikan.

Setelah membunuh Empu Gandring, keris itu oleh Ken Arok dibawa pulang. Karena mendapat keris yang keren maka dia pun memamerkan kepada banyak orang. Orang-orang pun takjub sebab keris itu memang keris yang sangat bagus hasil karya seorang empu sakti pula.

Saking takjubnya atas keris itu, sahabat sekaligus pesaiang Ken Arok, yakni Kebo Ijo ngiler ingin memiliki keris itu. Anehnya Ken Arok dengan suka hati memberikannya kepada rekannya yang juga jagoan itu. Dan sama dengan Ken Arok, Kebo Ijo pun memamerkan keris ini ke warga Singasari sebagai kerisnya yang baru. Semua orang Singasari percaya bahwa kini Kebo Ijo mempunyai keris yang sangat bagus.

Namun berbeda dengan Kebo Ijo yang tengah mabuk kepayang dengan keris barunya, Ken Arok punya rencana tersendiri. Melihat semua orang sudah tahu bahwa keris setengah jadi buatan Empu Gandring adalah milik Kebo Ijo, dia segera menjalankan cita-cita untuk merebut tahta adipati Tumapel.

Maka, pada suatu malam dia mengendap-endag mendatangi rumah Kebo Ijo. Tujuannya cuma satu yakni mencuri keris yang baru dimilikinya itu. Setelah mencuri keris Ken Arok kemudian menyelinap masuk Kedaton Tumapel, membunuh Tunggul Ametung yang tengah tidur. Pembunuhan terlihat semakin sadis karena karena Ken Arok tetap membiarkan keris itu tertancap di tubuh dada Tunggul Ametung. Setelah membunuh Ken Arok segera menyelinap pergi untuk menyembunyikan diri.

Tentu saja, keesokan harinya, kadipaten Tumapel geger. Ini karena sang Adipati Tunggul Ametung Terbunuh. Sadisknya, di tubuhnya yang bersimbah darah masih tertancao sebuah keris. Publik dan punggawa kerjaan marah besar. Ken Arok selaku panglima pasukan Tumapel ditunjuk memimpin penyelikan.

Setelah di usut, ternyata keris itu milik Kebo Ijo. Semua orang tahu dan langsung mempercayai bahwa Kebo Ijo adalah pembunuhnya. Ini berdasarkan pengetahuan umum bahwa Kebo Ijo adalah memang pemilik keris itu. Mereka gelap mata dengan tidak mau berpikir bahwa ada orang lain yang sedang memainkan emosi publik.

Maka Kebo Ijo segera ditangkap oleh prajurit Tumapel yang dikomandani Ken Arok itu. Meskipun juga jagoan seperti Ken Arok, karena dikerubut pasukan Tumapel Kebo Ijo menyerah. Dia pun tertangkap dan kemudian diadili. Tak ayal dia dijatuhi hukuman mati. Kebo Ijo memang sempat mengelak melakukannya. Tapi tak ada yang percaya. Apalagi Ken Arok kemudian mengiyakan bila keris itu memang milik Kebo Ijo. Ken Arok dipuji dan namnaya harum atas kemampuan penyelidikannya,

Rakyat Tumapel suka ria karena pembunuh sang bupati telah tertangkap. Panglima tentara kadipaten itu, Ken Arok, sontak dieluk-elukan karena telah mampu meringkus pelaku kejahatan, yakni Kebo Ijo. Mereka sama sekali tak tahu bila justru Ken Arok adalah pembunuh sejatinya. Maka Ken Arok  kemudian mulus menggapai cita-cita menjadi Akuwu Tumapel. Im[ian Ken Arok lainnya, yakni memperosteri Ken Dedes dilakukannya. Dia tak peduli meski Ken Dedes tengah hamil muda.

Setelah sukses menjadi Adipati Tumapel, Ken Arok ingin mengincar kekuasaan yang lebih besar. Seiring dengan itu, terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana. Akibat perselisihan itu para brahmana memilih pindah ke Tumapel. Mereka meminta perlindungan Ken Arok yang memang telah merancang pemberontakan terhadap Kadiri (Kediri).

Maka atas bantuan para brahmana itu, Ken Arok yakin bahwa wilayah Tumapel mampu berdiri sendiri. Maka Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri. Ia kemudian memproklamasikan menjadi raja pertamanya dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

Awalnya, memang Raja Kediri yang bernama Kertajaya tak takut sama aksi Ken Arok meski ramai dia disebut sebagai anak dewa Barhma. Bahkan kini Kerjaya pun menyebut dirinya sebagai orang sakti yang hanya dapat dikalahkan Batara Siwa. Dia siap menghadapi pemberontakan Ken Arok.

Namun, dalam perang di desa Ganter, pasukan Kerjaya kalah telak. Dia bahkan terbunuh  atau disebut dengan kiasan sebagai 'naik ke alam dewa'. Akibat perang itu, kini Ken Arok yang dahulu hanya seorang perampok gombal menjadi raja besar. Dia melahirkan banyak keturunan, baik anak tiri dan anak kandung yang celakanya semuanya kemudian berebut takhta dan baku tikam dengan keris yang sama: keris Empu Gandring.

Tragisnya, Ken Arok bahkan akhirnya kemudian mati ditikam anak tirinya  (Tohjaya) yang menuntut balas kematian ayah biologisnya, Tunggul Ametung. Uniknya, Ken Arok menjemput ajal ditikam oleh keris itu yang sama yang dahulu dibuat oleh Empu Gandring dan dipakainya untuk membunuh Tunggul Ametung juga.

Celakanya lagi, pembunuhan ini terus terjadi berulang kali memakan anak turunnya, baik itu Tohjaya sendiri hingga Anusapati.Kutukan empu Gandring aksi brutal dan kebohongan Ken Arok, terbukti memakan banyak korban turun temurun. Cerita ini terjalin hingga kemudian terbentuknya kerajaan Majapahit.

Dan dua kisah itu ternyata terus terjadi sampai sekarang. Machiavelli dia Italia juga mengajarkan pernah hal yang sama. Dia mengisahkan soal cerita pembunuhan bupati Romagna karena rekayasa. Sama dengan Arok, kala itu di Italia juga ada seseorang membunuh penguasa, lalu meninggalkan jejak. Pedangnya di temukan di alun-alun kota.

Setelah pembunuhan itu, sang seteru sang bupati kemudian mengumumkan bila pelakunya adaalah seseorang yang sengaja dijadikan kambing hitam. Rakyat yang marah dan tak rasional pun terkecoh, media masa terkecoh. Padahal dia ternyata berbohong saja dan malah sebenarnya dialah yang jadi pelakunya. Maka sang seteru itu kemudian naik tahta.

Untungnya, cerita yang sama tidak terjadi pada duel tarung bebas antara Khabib dan Conor MacGregor. Meski pun banyak pancingan dan tindakan brutal Conor gagal menaklukan Khabib yang tenang dan alim. Provikasi Conor tak berhasil menaklukan Khabib yang bertindak waspada.

Ternyata meski ada kisah Sara'dasi, Ken Arok dan Kebo Ijo, pembunuhan tipuan bupati Romagna di Italia, atau hingga zaman tontonan tarung bebas ala Conor MacGregor, ternyata kelaliman selalu akan sirna. Kebohongan sesumpurna apa pun ternyata tak bisa menggantikan kejujuran yang menjadi mata uang yang selalu laku di segala zaman.

Istilah Jawanya: Suradira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (Sekuat apa pun sebuh kejahatan menguasai dunia, maka akan lebur bila kesejatian telah datang)!

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA