Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Natsir, Chouri: Jasa Kemerdekaan 100 KM dari Damaskus

Kamis 11 Oct 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Delegasi Indonesoa di sidang umum PBB tahun 1947. Terlihat Sutan Syahrir, KH Agus Salim, Sumitro Hadikusumo. Syahri bisa berpidatod di PBB atas jasa Faris Al Chouri, negarawan Suriah.

Delegasi Indonesoa di sidang umum PBB tahun 1947. Terlihat Sutan Syahrir, KH Agus Salim, Sumitro Hadikusumo. Syahri bisa berpidatod di PBB atas jasa Faris Al Chouri, negarawan Suriah.

Foto: 30 tahun Indonesia merdeka
Berkat kerja keras Chouri, suara Indonesia bergema di ruang sidang Dewan Keamanan PBB

Oleh Lukman Hakiem Peminat Sejarah, mantan anggota DPR dan staf M Natsir

PADA PERTENGAHAN 1956, Ketua Umum Partai Masyumi, Mohammad Natsir, memenuhi undangan untuk menghadiri Muktamar Alam Islami di Damaskus, Suriah.

Natsir datang ke Damaskus disertai oleh Arifin Datuk, dan Bahalwan. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) K.H.M. Dachlan menyebut keberangkatan Natsir ke Muktamar Alam Islami, mewakili umat Islam Indonesia.

Inilah untuk pertama kalinya Natsir menghadiri Muktamar Alam Islami. Pada Muktamar I di Karachi, Pakistan, tahun 1951, umat Islam Indonesia diwakili oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo.

Pada Muktamar II di Baitul Makdis, Palestina, tahun 1954, umat Islam Indonesia diwakili oleh Mr. Achmad Soebardjo, K.H. Moh. Kafrawi, dan K.H. Siradjuddin Abbas.

Negara-negara Islam, kecuali Mesir, hadir pada Muktamar di Damaskus. Mesir tidak hadir karena sedang sibuk mempersiapkan pembukaan Terusan Suez. Dari India hadir Abdul Hasan Al-Nadwi yang oleh Natsir disebut “Kiai Besar dari India”.

Dari Pakistan hadir Abul ‘Ala al-Maududi yang biasa juga dipanggil Maulana Maududi.Karena pendiriannya yang teguh, pada suatu ketika pemerintah Pakistan menganggap Maududi sebagai bahaya dan ancaman bagi Pakistan. Maududi ditangkap. Pengadilan memvonnis Maududi hukuman mati.

Umat Islam di berbagai penjuru dunia yang mendengar hukuman mati dijatuhkan kepada Maududi, ramai-ramai memprotes. Mereka minta supaya hukuman itu dibatalkan dan Maududi dibebaskan tanpa syarat.

Umat Islam Indonesia melalui Badan Koordinasi Umat Islam (BKUI) menyampaikan tuntutan serupa. Alhamdulillah protes dan permintaan umat Islam didengar oleh pemerintah Pakistan. Perdana Menteri Mohammad Ali, membebaskan Maududi.
Ketika Maududi tiba di arena Muktamar, dia disambut dengan gegap gempita.

Lazimnya di setiap pertemuan internasional, tuan rumah pasti menjadi ketua pertemuan.Mengikuti tradisi internasional, di awal persidangan, Natsir mengusulkan supaya wakil dari Suriah ditetapkan menjadi Presiden (Ketua) Muktamar Alam Islami.

Di luar dugaan, usul simpatik Natsir ditolak. Wakil negara-negara Arab mengajukan kontra usul, yaitu agar Mohammad Natsir dari Indonesia ditetapkan menjadi Presiden Muktamar.

Kontra usul itu juga meminta supaya Abul ‘Ala al-Maududi dari Pakistan dan Abdul Hasan al-Nadwi dari India ditetapkan sebagai Wakil Presiden Muktamar. Kontra usul dari negara-negara Arab disetujui secara aklamasi. Maka, trio pemimpin dan pemikir Islam: Natsir, Maududi, dan Nadwi; tampil memimpin Muktamar Alam Islami.

Muktamar kemudian memilih Sayid Ramadhan menjadi Sekretaris Jenderal. Ramadhan adalah anggota Ikhwanul Muslimin yang terkemuka.

Pada resepsi pembukaan Muktamar, hadir antara lain anggota parlemen Suriah, Faris al-Chouri. Natsir yang sudah mengenal Chouri sejak masa perjuangan kemerdekaan, segera menghampiri.

photo
Faris Al Chouri.



Menjelang akhir acara, Natsir meminta alamat rumah Chouri. Kepada sahabat lamanya itu, Natsir menyampaikan niat, selesai Muktamar, akan mengunjungi Chouri di kediamannya.

Tentu saja Chouri senang mendengar niat mulia Natsir. Meskipun demikian, Chouri menyarankan Natsir untuk membatalkan rencana mulianya itu.

“Mengapa Tuan menolak rencana kunjungan saya?” tanya Natsir heran. “Tuan tidak senang?”

Sambil tersenyum, Chouri menjelaskan bahwa dirinya sangat senang mendengar rencana Natsir. Akan tetapi, karena rumah Chouri terletak di sebuah desa kecil sekitar 100 kilometer dari Damaskus, maka jika Natsir tidak datang ke rumahnya, Chouri sangat paham.

“Tuan Natsir tentu lelah mengikuti agenda Muktamar yang padat. Tidak usah menambah lelah dengan berkunjung ke rumah saya. Bukankah kita sudah bertemu di sini?” ujar Chouri.

Betapapun dicegah, Natsir tetap pada rencananya akan datang ke rumah Chouri. Mengapa Natsir berkeras hendak datang ke rumah Chouri nun jauh di luar kota Damaskus?

photo
photo
Sutan Syahrir dan KH Agus Salim ketika menghadiri sidang umum PBB 1947. Keduanya berhasil menyakinkan PBB untuk mengakui bahwa Indonesia adalah negara merdeka yang berdaulat.



Kepada anggota Masyumi yang datang untuk mendengarkan ceramahnya di Kramat 45, Natsir menerangkan bahwa jasa Chouri bagi perjuangan bangsa Indonesia di luar negeri sangat besar.

“Dialah yang mengetuk pintu Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa sehingga memungkinkan Sutan Sjahrir berpidato di  Markas Besar PBB di New York pada 14 Agustus 1947. Berkat kerja keras Chouri, suara Indonesia bergema di ruang sidang Dewan Keamanan PBB,” tutur Natsir.

Perlu diketahui mengutip wikipedia, Faris Khoury adalah negarawan pertama Suriah yang mengunjungi Amerika Serikat dan mewakili negaranya pada 1945 pada saat peresmian PBB . Suriah adalah salah satu dari 53 anggota pendiri PBB yang asli .

Sebagai kepala delegasi Suriah di San Francisco, orasi dan kecerdikan luar biasa dari Faris al-Khoury membuat kesan yang kuat di depan para pemimpin dunia. Setelah mendengar pidato fasih Khoury, seorang diplomat AS berkomentar: "Tidak mungkin untuk sebuah negara dengan orang-orang seperti ini, untuk djajah!"

Salah satu kisah menakjubkan lainnya tentang sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah ketika Faris Al-Khoury duduk di kursi Prancis, bukannya duduk di meja di delegasu Suriah, Setelah beberapa menit, perwakilan Prancis ke PBB mendekati Faris dan memintanya untuk meninggalkan kursi, Faris mengabaikan orang Prancis dan hanya melihat arlojinya, beberapa menit kemudian.

Delegasi Prancis itu dengan marah meminta Faris untuk segera pergi. tetapi Faris terus mengabaikan orang Prancis dan lagi=lagi hanya menatap arlojinya, Setelah 25 menit duduk di kursi Prancis, Faris meninggalkan kursi dan berkata kepada perwakilan Prancis: "Anda tidak tahan melihat saya duduk di kursi Anda selama 25 menit saja, negara Anda telah menduduki tambang saya selama lebih dari 25 tahun, bukankah waktu keberangkatan pasukan Anda belum datang?".

Masih ada lagi jasa Chouri, kali ini untuk kaum Muslimin. Dia sebagai anggota parlemen Suriah, di dalam perdebatan mengenai undang-undang yang menyangkut hukum waris, Chouri –penganut Kristen yang taat– tanpa ragu mendukung hukum waris sesuai dengan ketentuan yang telah termaktub dalam al-Quran. “Dan, berhasil,” kata Natsir.

Setelah selesai dengan tugasnya memimpin Muktamar Alam Islami, Natsir mewujudkan niatnya: berkunjung ke rumah Sayid Al-Chouri di sebuah desa sunyi nun jauh di luar kota Damaskus.

Untuk menghormati seorang yang telah berjasa besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, jarak 100 kilometer dari Damaskus, bagi Natsir tidak berarti apa-apa. (Lihat video di bawah ini saat tahun 1950 resmi di akui sebagai anggota PBB. Ini ti a tahun kemudian sesudah Syahrir berpidato di depan Sidang PBB di New York. Saat itu delegasi Indonesia di PBB dipimpin LN Palar)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA