Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Khabib, Zidane, MacGregor: Terkenang Karavan Holid Dagestan

Selasa 09 Oct 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Sebagian rombongan jamaah haji asal Rusia yang ke Makkah dengan menggunakan mobil karavan tengah melepas lelah di Terminal Kudai, Makkah

Sebagian rombongan jamaah haji asal Rusia yang ke Makkah dengan menggunakan mobil karavan tengah melepas lelah di Terminal Kudai, Makkah

Foto: Muhammad Subarkah/Republika
Meski tergencet di semasa Uni Sovyet ternyata ajaran Islam tak mati di Rusia.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Melihat pertarungan antara Khabib Nurmagomedov dan Conor MacGregor, tiba-tiba ingatan ini melayang  pada dua peristiwa. Yang pertama peristiwa luar biasa bagi hidup saya, yakni pergi haji dan tinggal cukup lama di Makkah. Kedua peristiwa sepele tapi terasa terus bermakna, yakni teringat film ’The Gang of New York' yang dibintangi Leonardo Dicaprio.

Untuk yang pertama, entah mengapa tiba-tiba sosok Khabib begitu intim dengan saya. Wajah dan orangnya ekspresi wajahnya terasa sangat dikenal. Dan telusur punya telusur dari mana asal usul perasaan itu, ya memang pada pertemuan dengan serombongan orang Dagestan di Makkah selepas musim haji 2011 tersebut.

Kala itu perjumpaan berlangsung di Terminal Khudai yang berada di pinggiran Kota Makkah. Tujuan semula hanya ingin mencari air Zamzam yang konon pusat penampungan atau pompanya berada di tempat itu. Saya kemudian pergi saja ke sana agar bisa sekadar dapat minum dan membawa air zamzam dengan kemasan cukup banyak, yakni memakai jeriken 20 literan. Lumayan buat dipaketkan ke Tanah Air via kiriman cargo pesawat.

Nah, di tengah pencarian itulah saya bertemu serombongan lelaki asal Rusia, tepatnya asal Dagestan. Sekilas mereka sama dengan orang Eropa, tapi dari ekspresinya terkesan seperti orang Turki. Saat itu mereka tengah beristirahat bersama kendaraannya di bawah rimbunnya pepohonan.

Tak berapa lama saya kemudian berkenalan dan berbincang lepas. Imbas pertemuan itulah yang terasakan pada hari-hari ini. Perlahan-lahan saya jadi tahu mengapa negara itu mampu melahirkan petarung tangguh seperti Khabib yang namanya kini melambung sebagai juara olahraga tarung bebas.

Kesan mereka yang pantang menyerah memang seperti Khabib itu. Bila Khabib dengan tabah bisa menerima teror dan penghinaan dari Conor MacGregor, para ibu dan bapak asal kampungnya saya temukan banyak yang pergi haji dengan cara naik mobil. Padahal jarak Makkah dan Rusia (Dagestan) sangat jauh, lebih dari 5.000 KM. Perjalanan di tempuh selama hampir dua pekan sekali jalan. Kasur lipat, peralatan dapur, makanan mentah hingga peralatan bengkel ada dalam mobilnya.

photo
Sebagian rombongan jamaah haji asal Rusia yang ke Makkah dengan menggunakan mobil karavan tengah melepas lelah di Terminal Kudai, Makkah. Holid berpakaian hitam-hitam.

Memang mereka ke Makkah dengan cara konvoi. Mobil yang dipakai mereka berasal dari kendaraan roda empat sejenis van buatan Rusia bermerk Gazele. Kendaraan ini disulap jadi tempat menginap atau restoran di sepanjang perjalanan. (Kisah mirip jamaah haji asal Dagestan juga lazim dilakukan jamaah asal Eropa yang lain, seperti dari Prancis).

Agar lebih menghemat tenaga saya kutip saya tulisan soal pertemuan itu. Kisah ini pernah dimuat di Republika edisi 12 September 2011 dan menjadi bagian buku saya 'Lelaki Buta Melihat Ka'bah'. Kisahnya begini:

Karavan Holid Daghistan

"Kami memang melakukan perjalanan panjang!" Lelaki brewok bertubuh kekar bernama Abu Kholid menyampaikan hal ini di bawah kerindangan pohon di Terminal Kudai Makkah.

Udara siang padang pasir panas menyengat. Ini membuat Holid yang pergi haji ke Makkah dari Rusia bersama beberapa anggota keluarganya dengan menumpang mobil karavan berlindung di  bawah pohon yang rindang."Udara panas juga kadang membuat mobil kami bermasalah. Sebab, kendaraan ini memang dibuat untuk daerah dingin. Ketika memasuki kawasan Timur Tengah, radiatornya sering rusak. Mesin menjadi panas," ujarnya lagi.

Membayangkan cara pergi berhaji Holid dan rekan-rekannya jelas tak sebanding dengan cara berhaji orang Indonesia saat ini. Mereka tak naik kapal terbang, tapi mengendarai kendaraan darat. Panjang perjalannya jelas tidak main-main, sekitar 5.000 kiometer.

Jarak sepanjang ini mereka tempuh selama 10 hari untuk sekali jalan. "Kami melintasi banyak negara. Kami menyopir siang malam. Shalat, tidur, dan makan di mana saja. Setiap kali merasa capai kami berhenti untuk beristirahat," kata Holid.

Di Kudai saat itu memang terlihat beberapa mobil van buatan Rusia merek Gazele yang dibuat menjadi mobil karavan. Di bagian tengah kendaraan itu ada tempat tidur susun yang mungil.

Di bagian belakang ada dapur sekaligus gudang untuk menaruh barang. Dalam satu mobil ditumpangi tiga orang. Holid pergi haji ke Makkah dengan anak lelaki yang sudah remaja dan istrinya, Fatimah.

photo

Sebagian rombongan jamaah haji asal Rusia yang ke Makkah dengan menggunakan mobil karavan tengah melepas lelah di Terminal Kudai, Makkah

Daghistan adalah negara bagian Republik Rusia. Sebagian besar beretnis Turki dan beragama Islam. Populasinya sekitar 2,6 juta jiwa. Negara ini kaya bahan tambang seperti minyak, gas, dan batu bara. Tanahnya subur karena berada di pegunungan Kaukasia. Ada danau yang luas di dekat Laut Kaspia dan puncak Gunung Bazardyudi yang tinggi menjadi 4.466 meter.

Warga Muslimnya menganut Mahzab Suni-Syafii. Di sana juga ada orang Yahudi. Populasi Kristen yang hanya delapan persen, kebanyakan berasal dari etnis Slavia. Sosok pejuang yang sangat dikenal adalah Imam Shamil yang pada abad ke-18 berperang melawan kolonial Rusia. "Imam Shamil adalah pejuang dan guru kami. Di sana juga ada Imam Murat. Mereka pejuang Daghistan," ujar Holid.

Dia juga menceritakan perjuangan bangsa Daghistan yang diokupasi Rusia pada 1813. Etnis Rusia yang populasinya minoritas di kawasan Asia Tengah-Utara kemudian menguasai banyak wilayah seperti Dagestan. Melalui Revolusi Bolshevik yang berhasil menjungkalkan Kekaisaran Tsar Nikola II,  Vladimir Lenin pada 1917 kemudian memproklamasikan gabungan negara koloninya sebagai Union of Soviet Socialits Republicks (USSR).

Menurut Holid, perjalanan haji bagi orang Daghistan memang harus dipersiapkan dengan matang. Tak hanya menyiapkan uang untuk membeli mobil dan membiayai perjalanan, mereka juga menyiapkan kesehatan badan secara baik.

Perjalanan panjang lintas negara dengan rute Daghitsan, Azerbaijan, Iran, Turki, Suriah, Yordania, dan Arab Saudi bolak-balik jelas melelahkan serta berbiaya besar. "Sekali jalan rombongan bisa mencapai puluhan kendaraan," tuturnya.

Rombongan diatur dalam kelompok kecil masing-masing empat kendaraan. Dalam kelompok itu harus ada satu orang mekanik yang paham seluk-beluk mesin mobil. Suku cadang kendaraan yang penting juga dibawa dalam satu mobil khusus.

Selain menyiapkan bekal fisik dan rohani yang cukup ketika hendak berangkat haji, para pengelana ini semuanya menguasai bahasa Arab. Sebagian besar juga menguasai bahasa Inggris.

Bahkan khusus untuk Holid, di mobilnya terlihat menumpuk aneka bahan bacaan. Saya beli berbagai kitab baru di sini. Ada yang bahasa Inggris ataupun Arab. Kami memang tak bisa buka internet karena harus berpindah tempat sehingga koneksinya sulit, tuturnya. Sebagai sarana komunikasi, mereka menggunakan telepon selular biasa dan satelit. Untuk yang biasa, kami harus ganti kartu baru setiap kali melintasi negara yang berbeda.

Apakah masih ingin balik lagi ke Makkah meski perjalanan panjang dan sulit? Holid menjawab dengan mengangguk. "Lima tahun lalu kami datang,'' katanya.


  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA