Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Pengaruh Moghul dalam Syiar Islam di Laos

Senin 08 Oct 2018 20:01 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Peta Laos.

Peta Laos.

Foto: lonelyplanet.com
Masjid Jama dibangun dengan minaret miniatur khas Asia Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Muslim di Laos pada mulanya berkembang di daerah perbukitan. Mereka tumbuh dari desa ke desa. Mereka juga memiliki kerabat di kota yang memasok barang-barang perdagangan.

Muslim Chin Haw bersama-sama dengan banyak komunitas Cina sebagian besar kembali ke Cina atau bermigrasi ke luar negeri, ke Thailand atau Barat. Mereka adalah korban perang dingin Cina- Soviet yang melihat Laos sebagai anak didik Vietnam yang berada di sisi Rusia dan melawan Cina.

Dengan kepergian Chin Haw, komunitas Muslim yang tersisa di Laos dapat ditemukan di Vientiane. Kota ini memiliki Masjid Jama di jalur sempit tepat di belakang Nam Phu Fountain pusat.

Bangunan ini dibangun dalam gaya neo-Moghul, dengan minaret miniatur khas Asia Selatan. Setiap hari suara azan terdengar di sana. Masjid ini memiliki dapur umum di lantai dasar dan ruang shalat di lantai pertama. Di dalamnya terdapat tulisan berbahasa Arab, Lao, Tamil, Urdu, dan Inggris.

Kehadiran yang tak terduga dari naskah Tamil India Selatan adalah pengingat bahwa dalam menyeberangi Sungai Mekong, pelancong telah melintasi perbedaan budaya besar di Eropa. Untuk Masjid Jama milik Jama'ah, seperti kota di sekitarnya dan memang Laos itu sendiri, pernah menjadi bagian dari bekas masyarakat Indo-Cina Prancis.

Pada hari Jumat, ketika jamaah shalat Jumat berdatangan, masjid menjadi penuh.Mereka berasal dari berbagai arah mata angin, datang berpakaian rapi, menyucikan diri dengan berwudhu. Setelah itu duduk bersaf lurus men dengar kan khutbah. Setelah itu mendirikan shalat bersama dua rakaat.

Suasananya sangat terasa seperti di Asia Selatan. Muslim lokal berbicara Lao tetapi ada juga sebagian mereka berbicara dengan bahasa Pathan dan Bengali.

Jamaah memiliki beragam profesi. Ada pedagang, guru, pegawai negeri, dan diplomat dari berbagai negara yang bekerja di Vientiane. Ada yang berasal dari Malaysia dan Indonesia. Orang-orang Palestina juga memiliki kedutaan di Laos. Duta besar Palestina mudah ditemui ketika shalat Jumat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA