Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

IFC Terbitkan Green Komodo Bond Rp 2 Triliun

Senin 08 Oct 2018 14:17 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Friska Yolanda

Persiapan Pertemuan IMF. Aparat kepolisian verjaga di gerbang tempat pertemuan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, Ahad (7/10).

Persiapan Pertemuan IMF. Aparat kepolisian verjaga di gerbang tempat pertemuan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, Ahad (7/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Obligasi hijau bertenor lima tahun itu akan didaftarkan di Bursa Efek London,

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Lembaga Pembiayaan International Finance Corporation (IFC) untuk kali pertama menerbitkan surat utang berwawasan lingkungan (green bond) berdenominasi rupiah untuk pasar internasional atau Komodo bond. Obligasi itu berhasil menarik minat investor dan mengumpulkan dana sebesar Rp 2 triliun. Pembiayaan tersebut akan digunakan untuk mengatasi perubahan iklim.

Penerbitan Green Komodo Bond di pasar luar negeri berdenominasi rupiah ini merupakan yang pertama dilakukan oleh bank pembangunan multilateral untuk investasi ke proyek-proyek terkait perubahan iklim di Indonesia. Untuk diketahui, IFC adalah lembaga pembiayaan yang berafiliasi dengan Bank Dunia. 

IFC menyebut, minat yang kuat dari berbagai kelompok investor internasional adalah bukti meningkatnya ketertarikan terhadap investasi yang bertanggung jawab sosial di Indonesia.

Obligasi hijau bertenor lima tahun itu akan didaftarkan di Bursa Efek London dan Bursa Efek Singapura. "Penerbitan Green Komodo bond ini menegaskan komitmen IFC untuk mendukung Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang ramah lingkungan," kata Wakil Presiden IFC untuk Asia dan Pasifik Nena Stoiljkovic.

Dia mengatakan, obligasi itu memungkinkan IFC untuk menggerakkan pendanaan internasional ke dalam proyek-proyek ramah iklim di Indonesia.

Wakil Presiden dan Bendahara IFC Jingdong Hua mengatakan, obligasi hijau dalam mata uang rupiah tersebut dapat membantu sektor swasta mengelola risiko valuta asing melalui pembiayaan dengan mata uang lokal. “Ini sekaligus menumbuhkan bisnis yang cerdas iklim,” katanya.

Dalam laporan dampak obligasi hijau IFC, lembaga tersebut telah menerbitkan 32 obligasi berwawasan lingkungan senilai 1,8 miliar dolar AS. Jumlah proyek yang didukung oleh Program Obligasi Berwawasan Lingkungan IFC telah melonjak menjadi 52 proyek di tahun fiskal 2018, dari 32 proyek di tahun fiskal 2017. Pencapaian ini merupakan yang tertinggi dalam jumlah dan nilai proyek yang dibiayai obligasi hijau sepanjang masa. Portofolio ini diharapkan akan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca setiap tahun sebesar setara dengan 6,3 juta metrik ton karbon dioksida atau mengalami peningkatan dari 2,2 juta metrik ton pada 2017. 

Baca juga, OJK Gelar Kegiatan di Pertemuan IMF-WB, Ini Agendanya

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA