Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Hasto: Kampanye Berbasis Program Jokowi Diterima Masyarakat

Senin 08 Oct 2018 06:48 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Bayu Hermawan

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto berbicara kepada wartawan di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/8).

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto berbicara kepada wartawan di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/8).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf menyambut baik hasil survei SMRC

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto menyambut baik hasil survei SMRC yang menunjukan pasangan capres-cawapres nomor urut 1 itu unggul atas pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Hasto mengatakan, hasil survei akan menjadi energi bagi TKN untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf.

Hasto yakin bukti kampanye simpatik berbasis program Jokowi-Maruf telah menarik simpati, dan diterima rakyat. "Bukti bahwa kampanye simpatik Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin yang didasarkan pada kinerja, dan program serta mengedepankan kesantunan publik lebih diterima rakyat," katanya, Ahad (7/10).

Elektabilitas tinggi Jokowi-Maruf ini ia syukuri sebagai energi positif tim pemenangan. Bagaimana memacu semangat untuk lebih masif lagi turun ke daerah dan memenangkan hati rakyat untuk Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin.

"Kampanye itu adu gagasan dan program, menjabarkan desain kemajuan bagi Indonesia Raya yang bertumpu pada jati diri dan kepribadian bangsa. Sementara di kelompok sebelah, lebih memilih serangan tajam, bahkan menerapkan jurus model Donald Trump ataupun teknik firehouse of the falsehood Rusia yang tidak sesuai budaya timur," ujarnya.

Menurut Hasto model kampanye dengan nada ancaman, seperti Indonesia akan bubar, ternyata menjadi bahan tertawaan rakyat dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia. "Apapun masyarakat Indonesia lebih menghormati sosok yang jujur, ramah, dan bersahabat, daripada sosok yang kontroversial dan grusa-grusu," ucapnya.

Hasto menegaskan agar seluruh tim kampanye dan relawan tidak cepat puas diri. Elektabilitas tinggi harus diikuti oleh gerakan dari rumah ke rumah, menghadirkan keberhasilan Jokowi untuk rakyat. Pada kesempatan yang sama, daya dukung ulama karismatik yang kaya pengalaman serta menjadi pengayom rakyat seperti Kiai Ma’ruf Amin terus memerkuat kepemimpinan Pak Jokowi.

Baca juga: SMRC Jelaskan Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Capai 60 Persen
https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/18/10/07/pg8irw409-smrc-jelaskan-elektabilitas-jokowimaruf-capai-60-persen

Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menunjukkan elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin berada di angka 60,4 persen. Sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya meraih elektabilitas 29,8 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan elektabilitas pasangan nomor urut 01 tinggi. Pertama, sebagian besar masyarakat menyatakan menerima kinerja presiden.

"Mereka puas atau cukup puas dengan kinerja presiden di berbagai bidang secara umum," kata dia di Kantor SMRC, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad (7/10).

Berdasarkan survei SMRC, sebanyak 9,7 persen menyatakan sangat puas dengan kineja Jokowi selama menjabat sebagai presiden. Selain itu, 63,7 persen masyarakat menyatakan cukup puas.

Hanya sekitar 22,6 persen masyarakat yang menyatakan kurang puas dan 2,8 persen tidak puas sama sekali. Sementara itu, sebanyak 1,2 persen masyarakat tidak menjawab atau tidak tahu.

Djayadi melanjutkan, alasan kedua pendongkrak elektabilitas Jokowi-Ma'ruf adalah nilai positif evaluasi atas kemampuan Jokowi memimpin. "Sebagian besar masyarakat yakin dengan kemampuan jokowi memimpin bangsa," kata dia.

Survei SMRC menunjukkan, 13,3 persen masyarakat sangat yakin atas kemampuan Jokowi memimpin, sementara 58,1 persen merasa cukup yakin. Sedangkan, sebanyak 20,3 persen masyarakat menyatakan kurang yakin dan 2,9 persen tidak yakin sama sekali. Sisanya, 5,4 persen menyatakan tidak tahu atau.

Djayadi melanjutkan, alasan ketiga pendongkrak elektabilitas pejawat adalah situasi makro ekonomi, politik, penegakan hukum, dan keamanan, yang dievaluasi secara positif. "Karena itu untuk sementara masih lebih banyak yang mendukung Jokowi," kata dia.

Di sektor ekonomi, mayoritas masyarakat bahkan optimis keadaan setahun ke depan akan lebih baik. Berdasarkan survei SMRC, 48,2 persen masyarakat meyakini kondisi ekonomi Indonesia setahun ke depan akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Sementara, 9,8 persen masyarakat yakin kondisi ekonomi akan jauh lebih baik.

Sedangkan, 0,7 persen menyatakan kondisi ekonomi akan jauh lebih buruk, dan 5,9 persen menyatakan akan lebih buruk. Hanya 18,7 persen masyarakat yang menyatakan kondisi ekonomi tak akan ada perubahan.

Amri Amrullah

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA