Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Aksi Ambil Untung Dorong Penurunan Harga Minyak

Jumat 05 Oct 2018 07:57 WIB

Red: Friska Yolanda

Kilang minyak

Kilang minyak

Foto: VOA
Penurunan terjadi karena Brent sudah mencapai level kelebihan beli.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak jatuh pada Kamis (4/10) waktu setempat karena prospek peningkatan produksi minyak mentah dari Arab Saudi dan Rusia memicu aksi ambil untung. Sebelumnya, harga minyak mencapai harga tertinggi dalam empat tahun yang didorong sanksi AS terhadap Iran, produsen nomor tiga anggota organisasi produsen minyak (OPEC).

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 1,71 dolar AS atau 1,98 persen, menjadi menetap di 84,58 dolar AS per barel. Patokan global ini pada Rabu (3/10), naik ke tertinggi akhir 2014 di 86,74 dolar AS.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan November turun 2,08 dolar AS atau 2,72 persen menjadi berakhir di 74,33 dolar AS per barel.

Pelaku pasar mengambil keuntungan setelah Brent pada Rabu (3/10) naik ke level paling overbought secara teknis sejak Februari 2012. WTI adalah yang paling overbought sejak Januari.

Indeks kekuatan relatif (relative strength index/RSI) untuk minyak mentah Brent dan WTI naik pekan ini menjadi di atas 70. Level ini sering dianggap sebagai sinyal bahwa pasar telah meningkat terlalu jauh. Pada Kamis (4/10), RSI kedua kontrak mundur ke bawah 70.

Juga menekan harga minyak, persediaan minyak mentah di pusat pengiriman minyak AS di Cushing, Oklahoma, naik sekitar 1,7 juta barel dari 28 September hingga Selasa (2/10). "Kemunduran hari ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh penurunan tajam dalam ekuitas dan koreksi yang layak mengingat besarnya percepatan harga naik baru-baru ini," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Harga minyak telah meningkat karena pasar bersiap untuk sanksi-sanksi terhadap Iran yang mulai berlaku 4 November. Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih mengatakan pada Kamis (4/10) bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dapat meningkatkan produksi sebesar 1,3 juta barel per hari, tetapi tidak memberikan sinyal bahwa kelompok produsen itu akan melakukannya.

Kerajaan berencana untuk menginvestasikan 20 miliar dolar AS untuk mempertahankan dan mungkin memperluas kapasitas produksi minyak cadangannya. Saat ini, kapasitas berkelanjutan Arab maksimum sebesar 12 juta barel per hari.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dan kekhawatiran perdagangan global telah menekan ekonomi negara-negara berkembang. India menghadapi krisis ekonomi karena impor minyaknya yang sangat besar. India juga telah dirugikan oleh penurunan mata uang rupee terhadap dolar AS.

Dolar AS yang kuat membuat minyak dalam denominasi dolar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. "Kami telah berdebat baru-baru ini bahwa jika mencapai 100 dolar AS pasar akan menjadi permintaan yg dilebih-lebihkan," kata ahli strategi PVM Oil Associates, Tamas Varga.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA