Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Kenaikan Suku Bunga Berpotensi Tingkatkan Kredit Macet

Rabu 03 Oct 2018 05:52 WIB

Red: Friska Yolanda

Aktivitas perbankan.

Aktivitas perbankan.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Debitur akan berpikir dua kali dalam mengajukan kredit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meningkatnya tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dinilai berpotensi untuk menaikkan kredit macet. Pemerintah perlu mengantisipasinya.

"Dengan bertambah tingginya suku bunga acuan, bank-bank komersial akan menyesuaikan bunga pinjaman dan tabungannya," kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman, Selasa (2/10).

Menurut dia, tingginya bunga ini akan mendorong calon investor untuk berpikir dua kali sebelum melakukan pinjaman ke bank. Di sisi lain, lanjutnya, apabila bunga tabungan bank komersial ikut naik, masyarakat akan lebih terdorong untuk menyimpan uangnya sehingga berperan dalam mengurangi tingkat konsumsi masyarakat dan pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.

"Jika tingkat konsumsi lemah, pengusaha yang sedang melakukan pinjaman atau debitur akan semakin sulit untuk membayar piutang mengingat menurunnya permintaan. Sehingga pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri potensi terjadinya kredit macet dapat meningkat dan pada akhirnya berpotensi membahayakan sistem perbankan Indonesia," jelas Ilman.

Berdasarkan Statisitik Perbankan Indonesia yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kredit bermasalah atau NPL Indonesia pada periode Juni 2017-Juni 2018 berada di angka 2,85 persen. Bahkan dalam Semester I 2018, NPL terus menurun dari 2,86 persen pada Januari 2018 menuju 2,67 persen pada Juni 2018. Capaian ini menunjukkan bahwa NPL masih cukup terkendali dan patut dipertahankan di tengah ketidakpastian perekonomian global.

Sebagaimana diwartakan, pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) telah memprediksi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,75 persen. Oleh karenanya, pengusaha telah melakukan beberapa antisipasi terhadap dampak yang mungkin terjadi.

"Kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat kali ini memang sudah diprediksi dan begitupun BI Rate yang langsung dinaikkan menjadi 5,75 persen," kata Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani melalui pesan singkat di Jakarta, Sabtu (29/9).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia bertujuan untuk menjaga stabilitas perekonomian dari tekanan global. "Kalau harus memilih antara stability dengan growth, kalau stability terancam, stability dulu yang diurusi," kata Darmin di Jakarta, Jumat (28/9). Darmin juga memahami alasan bank sentral untuk menyesuaikan suku bunga acuan karena saat ini merupakan era rezim suku bunga tinggi.

Baca juga, Naiknya Suku Bunga Acuan dan Dampaknya ke Ekonomi

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA