Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Dilema Amil, Antara Izzah dan Iffah

Jumat 28 Sep 2018 16:16 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ilustrasi Zakat

Zakat, ilustrasi

Foto:
Izzah merupakan refleksi harga diri yang mulia dan agung.

'Iffah yang Indah
Ketika demikan kuat perasaan bangga akan kedudukan, fungsi, dan peran sebagai amil yang membantu urusan umat, maka sifat ‘iffah akan menjadi rem yang baik bagi keseimbangan perasaan seorang amil. Ketika semangat menumbuhkan dan menjadikan OPZ masing-masing tumbuh hebat dan jadi yang terbaik.

Mulai dari wujud fisik, tampilan interior yang bahkan melampaui bank dan system serta SOP kerja yang rapi, sistematis dan terstuktur baik, maka sifat ‘iffah adalah penyelaras agar harmoni perasaan amil bisa tercipta. Jangan sampai dengan semua yang telah dilakukan dan dikembangkan, justru amil dan lembaganya terjebak memasuki perlombaan sesaat yang hanya berhenti pada perasaan bangga semata.

Anugerah award, penghargaan jadi top of mind di sejumlah survei dan lembaga riset, serta panggilan menjadi pembicara mewakili gerakan zakat yang lain di berbagai forum nasional maupun internasional, jangan sampai menjebak amil dan penggeraknya untuk masuk ke dalam istilah “Gigantisme”. Istilah tadi merujuk bahwa ia dan lembaganya menjadi yang terhebat, terbesar dan ter-ter yang lain.

Jebakan perasaan tadi, bila tidak diimbangi dengan kesadaran yang utuh akan makna dan substansi gerakan zakat, maka hanya akan melahirkan izzah yang berlebihan. Malah bisa justru kering dari nilai-nilai keberkahan.

Apa yang amil dan penggerak zakat dapatkan bila ternyata spirit keberkahan jauh dari jangkauan. Amil sejati, para aktivis dan penggerak zakat selama ini harus sadar bahwa urusan zakat ini kan urusan penegakan syariat.

Untuk apa penghargaan yang berlebihan bila kita malah dijauhkan dari keberkahan. Keberkahan ini kan urusan hati, sebuah perasaan yang tumbuh dalam nurani atas rasa syukur yang dinikmati walau mungkin secara kasat mata dan matematika manusia tak sesuai angkanya. Menjadi rusak logika keberkahan kita, bila ternyata kita mulai terjangkiti virus bangga diri, bahkan menjurus pada munculnya tunas-tunas kesombongan. Penghargaan setinggi apa pun, sejatinya tak masalah bila kita sanggup tetap bersetia menjaga hati dan terlepas dari merasa lebih dari pihak lain.

Inilah ‘iffah yang harus kita jaga, sehebat dan sebesar apa pun OPZ yang kita kelola, para amil, aktivis dan penggeraknya harus memiliki spirit ‘iffah dan senantiasa berdiri kokoh memegang amanah yang ada di pundaknya masing-masing. Cara-cara mengejar izzah lembaga lewat tampilan fisik, besarnya raihan penghimpunan, banyaknya penghargaan serta kerja-kerja membesarkan OPZ masing-masing dengan segala macam cara, tak boleh dibiarkan menggerus nilai-nilai amil sejati.

Amil sejati adalah amil yang senantiasa mengingat Allah dalam seluruh aktivitasnya. Mereka bekerja siang malam dan berlelah-lelah dalam bingkai mencari pahala untuk keabadian hidup setelah kehidupan dunia yang fana ini. Tanpa izzah yang benar, justru kesibukan dan rutinitas aktivitas amil yang mulai terindikasi melupakan Allah hanya akan membuat kita tak berharga di sisi Allah SWT.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa pada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa pada diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasiq” (QS. Al Hasyr (59) :19).

Seorang amil sejati bukan hanya seorang muslim, karena ia sejatinya adalah juga juru dakwah di bidang pelayanan umat. Kerja dan aktivitasnya siang malam yang tak kenal lelah seharusnya berdiri di atas landasan ikatan (urwah) yang erat dengan Tuhannya.

Izzah sebagai pribadi Muslim, tak terputus sedikitpun dari nilai-nilai dakwah ilallah. Izzah dan ‘iffah bagi amil sejati pasti tidak mudah, apalagi bila berbicara soal kecukupan biaya hidup saat ini yang tak lagi murah. Harga-harga demikian tinggi dan biaya-biaya lain pun seakan berlomba ikut-ikutan terkerek naik. Belum lagi makin lama anak-anak juga semakin tinggi sekolahnya dan memerlukan biaya pendidikan yang tak sedikit.

Belajar ‘Iffah pada Bughats
Para amil yang dicintai Allah, ‘Iffah memang tidak mudah implentasinya. Apalagi kalau sudah urusan pendapatan. Dalam moment ini, mari kita bercermin pada cerita mengenai bughats atau anak gagak. Cerita ini disampaikan seorang ulama dari Suriah. Ia sering mengulang sebuah doa untuk ia lantunkan. Doa yang ia baca : "Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats."

Mengapa "bughats"? bukan binatang lainnya. "Bughats" adalah anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut "bughats".

Dalam Bahasa Arab, ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab). Lalu apa bedanya antara bughats dan ghurab?. Anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih. Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja. Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang. Lalu bagaimana ia makan dan minum?

Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya. Allah menciptakan “aroma” tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya.

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh. Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri. Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Para amil, aktivis dan penggerak zakat sekalian...
Sungguh Allah SWT benar adanya. Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki "Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia" (QS. Az-Zukhruf: 32).

Sesungguhnya, rezeki kita akan mendatangi kita di mana pun kita berada, selama kita menjaga kedekatan dan ketakwaanmu kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam: "Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan menta'atinya"

Bagi kita para amil, aktivis dan penggerak zakat, tidaklah pantas bagi kita untuk khawatir dan justru melupakan Allah dengan sibuk berebut rezeki, apalagi sampai tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya. Bila saat ini jumlah pendapatan kita belum sesuai kebutuhan, mari dibicarakan dengan para pihak terkait dengan baik dan penuh musyawarah kekeluargaan.

Saat yang sama, tanamkan terus rasa sabar, ikhlas dan rasa berkorban kita untuk bisa menjaga diri dari meminta-minta dan mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kita juga senantiasa harus bersyukur atas nikmat dan rejeki yang telah Allah berikan selama ini.

Tak lupa lakukan juga introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan kita sebagai amil yang professional sudah dilakukan dengan kemampuan terbaik yang kita miliki atau belum. Sudah sesuai dengan aturan dan tahap-tahap rencana pelaksanaan yang ada atau belum?

Para amil yang dimuliakan Allah... Mari kita terus jaga semangat dalam bekerja sebagai amil dengan sebaik-baiknya. Janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata'ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nikmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata'ala.

Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata'ala diatas muka bumi ini.

Mari kita juga berdo’a :
"Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu" (HR. Ahmad)

Jaga terus spirit amil sejati. Hidupkan terus ruh perbaikan gerakan zakat Indonesia.

*) Direktur Pendayagunaan Zakat & Sekjend FOZ

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA