Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Medium Rare atau Well Done, Mana Lebih Sehat?

Selasa 25 Sep 2018 06:01 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Sepiring steak.

Sepiring steak.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Karsinogen dari daging yang dibakar bisa memicu tumor usus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap orang memiliki selera tersendiri terkait tingkat kematangan steak. Dua tingkat kematangan yang cukup populer dan menjadi perbincangan adalah medium rare dan well done.

Medium rare menjadi salah satu tingkat kematangan yang populer karena digadang sebagai tingkat kematangan terbaik untuk sajian steak. Sedangkan well done menjadi cukup populer karena sebagian orang lebih menikmati sajian daging yang memiliki kematangan sempurna.

Akan tetapi, menyantap steak pada dasarnya bukan hanya sekedar masalah selera. Tingkat kematangan juga dapat mempengaruhi nilai kesehatan yang terkandung dalam sajian steak untuk tubuh.

Jika dilihat berdasarkan kandungan gizi, Ahli Gizi Leslie Beck mengatakan tak ada perbedaan berarti antara steak yang dimasak dengan tingkat kematangan medium rare maupun well done Akan tetapi, daging yang dimasak hingga well done memiliki lebih banyak potensi karsinogen bernama heterocyclic amines (HCAs) dibandingkan daging yang dimasak dalam periode waktu lebih singkat.

HCAs bisa terbektuk pada daging yang dimasak dengan cara dibakar, dipanggang, digoreng atau dimasak barbecue. HCAs terbentuk ketika asam amino dan kreatin bereaksi terhadap suhu yang tinggi.

Pada hewan, HCAs dapat memicu terjadinya tumor usus. Sedangkan pada manusia, asupan HCAs tertentu yang tinggi kerap dikaitkan dengan risiko polip usus yang lebih tinggi. Studi yang berskala cukup besar juga menunjukkan adanya keterkaitan antara daging well done dengan lebih tingginya risiko beberapa jenis kanker.

"Well done atau tidak, lebih bijak untuk membatasi asupan daging merah," jelas Beck seperti dilansir The Globe and Mail.

Beck mengatakan asupan daging merah yang tinggi, terlepas dari tingkat kematangan dagingnya, berkaitan erat dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung koroner. Ahli kanker menyarankan agar daging merah hanya dikonsumsi kurang dari 18 ons per minggu.

Karena itu, Beck menyarankan para pecinta steak untuk mengonsumsi steak dalam porsi kecil saja. Steak juga sebaiknya dimasak dan disajikan dalam potongan-potongan tipis dibandingkan dalam potongan utuh. Tak hanya itu, Beck juga menyarankan agar pecinta steak memilih potongan daging steak yang lebih rendah lemak.

"Seperti sirloin, flank steak, eye of the round (gandik), tenderloin, daging cincang tak berlemak (lean) atau sangat tak berlemak (extra lean)," papar Beck.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA