Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Ketika Damai Hanya Jadi Mimpi

Sabtu 22 Sep 2018 18:10 WIB

Red: Agung Sasongko

Gaza

Gaza

Foto: Reuters/Darren Whiteside
semakin hari situasi Gaza semakin memprihatinkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 21 September 1981 sebagai hari perdamaian internasional. Namun, di Palestina, Hari Perdamaian Internasional hanya menyisakan kepiluan.

Seorang aktivis Great Return March, Abeer Zeyad Barakat mengungkapkan, semakin hari situasi Gaza semakin memprihatinkan. Dia bersama Great Return March memang telah memperjuangkan hak warga Gaza sejak enam bulan lalu.

"Meski begitu, Pemerintah Israel terus menolak keras ajuan damai dan semakin menekan warga Gaza agar menyerah. Namun, warga Gaza sama sekali tidak takut, bahkan justru semakin kuat," ungkap Abeer kepada Republika.co.id belum lama ini.

Keadaan Gaza yang menyedihkan, lanjut Abeer membuat warga Gaza memilih untuk mati syahid dibandingkan harus kehilangan martabat mereka sebagai seorang Muslim. Abeer menjelaskan, mereka menganggap tidak ada lagi alasan mereka untuk takut kehilangan sesuatu yang mereka miliki karena sejatinya sudah tidak ada lagi hal yang dapat mereka pertahankan selain keimanan pada agama yang dibawa Rasulullah.

"Bagi mereka, mati lebih baik daripada menjalani kehidupan yang menyedihkan tanpa martabat, lanjut Abeer.

Pada peringatan ke-25 Kesepakatan Perdamaian Oslo antara Organisasi Pembebasan Palestina dan Israel, orang-orang di Gaza menyatakan dengan jelas bahwa perjanjian tersebut merupakan penipuan besar.

Mereka dengan tegas menolaknya. Hal ini didasari dengan ketidakadilan yang harus ditanggung Palestina dari perjanjian tersebut.

Abeer juga mengaku masih mengingat momen penandatangan perjanjian yang terjadi saat dirinya masih remaja. Ketika itu, orang-orang sangat bersemangat menyambut perdamaian dari pertikaian yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun, kenyataan sangat bertolak belakang dengan apa yang tertera dalam kesepakatan tersebut. Usai perjanjian itu, tidak ada satu pun pihak yang dapat membawa kedamaian bagi Palestina.

"Orang-orang Palestina sudah kehilangan kepercayaan mereka pada kata perdamaian yang sering dijanjikan banyak pihak karena faktanya tidak ada kesepakatan yang mendukung penuh perdamaian bagi Palestina, ungkap dia.

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA