Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Friday, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 February 2020

Bio Farma Terapkan Tiga Syarat Seleksi Impor Vaksin

Jumat 21 Sep 2018 21:51 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Barisan botol vaksin produksi PT Bio Farma (ilustrasi)

Barisan botol vaksin produksi PT Bio Farma (ilustrasi)

Foto: Biofarma
Bio Farma hanya mengimpor vaksin dari produsen yang menerapkan standar WHO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan produsen vaksin PT Bio Farma menerapkan tiga persyaratan untuk menyeleksi produk vaksin yang akan diimpor dan digunakan di Indonesia. Peneliti senior PT Bio Farma Neni Nurainy mengatakan Bio Farma terlebih dulu memperhatikan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) terkait produksi yang dilakukan oleh produsen vaksin.

Neni mengatakan Bio Farma hanya mengimpor vaksin dari produsen yang menerapkan standar WHO dalam proses produksinya. Setelah itu, Bio Farma memerhatikan aspek kapasitas produksi produsen vaksin. "Walaupun sudah berstandar WHO tapi kapasitasnya harus memenuhi untuk kebutuhan negara lain," kata Neni di Jakarta Jumat (21/9).

Contohnya pada vaksin campak rubella (MR), Bio Farma mengimpor dari Serum Institute of India (SII). Sementara negara produsen vaksin MR ada tiga di dunia, yakni India, Cina, dan Jepang.

Bio Farma tidak mengimpor vaksin dari Cina karena proses produksinya tidak berstandar WHO. Sementara Jepang yang sudah berstandar WHO juga tidak memenuhi kapasitas untuk kebutuhan impor.

Syarat seleksi yang ketiga adalah bahwa vaksin tersebut sudah digunakan oleh banyak negara lain. "Harus sudah teregistrasi di banyak negara, banyak yang menggunakannya sehingga keamanannya sudah teruji," kata Neni.

Kampanye imunisasi campak dan rubella (MR) oleh pemerintah di 28 provinsi luar Pulau Jawa menggunakan vaksin produksi SII dari India. Vaksin MR dari SII sempat menjadi kontroversi lantaran kehalalannya yang dipertanyakan oleh masyarakat.

Namun Majelis Ulama Indonesia telah melakukan pengujian dan mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang menyebutkan vaksin MR dari SII boleh (mubah) digunakan untuk imunisasi walau masih ada unsur nonhalal pada vaksin. Pengecualian mubah penggunaan vaksin MR dari India dikarenakan ada kondisi kedaruratan karena belum ditemukannya vaksin dengan kandungan atau unsur halal sepenuhnya. 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA