Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Rio Tinto Jual Aset di Australia

Jumat 21 Sep 2018 11:26 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya

Truk tambang milik perusahaan tambang Australia, Rio Tinto di lokasi tambang mereka di Yandicoogina di Pilbara.

Truk tambang milik perusahaan tambang Australia, Rio Tinto di lokasi tambang mereka di Yandicoogina di Pilbara.

Foto: abc
Rio Tinto masih menunggu penjualan aset tembaga di Indonesia kepada Freeport

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan tambang global, rio tinto memberikan imbal hasil sebesar 3,2 miliar dolar AS kepada pemegang saham dari penjualan aset batubara di Australia pada tahun ini. Kabar ini langsung membuat saham Rio Tinto di bursa saham London naik 2 persen dan mendorong saham di Australia melejit hingga 3,5 persen.

"Pemberian imbal hasil 3,2 miliar dolar AS ini menunjukkan komitmen kami terhadap disiplin modal, dan memberikan pengembalian kepada pemegang saham," ujar Chief Executive Rio Tinto Jean-Sebastian Jacques dilansir Reuters, Jumat (21/9).

Jacques menambahkan, fokus perusahaan akan tetap pada pengelolaan portofolio. Terutama menyingkirkan aset yang tidak memberikan imbal hasil terbaik dari waktu ke waktu.

Awal tahun ini, Rio Tinto menjual tambang batu bara Hail Creek dan proyek batu bara Valeria ke Glencore, Winchester South ke Whitehaven Coal. Selain itu, Rio Tinto juga menjual tambang batu bara Kestrel ke manajer ekuitas swasta EMR Capital dan Adaro Energy Tbk. Secara total, aset tersebut menghasilkan 4,15 miliar dolar AS.

Chief Investment Officer dari Vertium Asset Management yang berbasis di Sydney, Jason Tech mengatakan, opsi pembelian kembali (buyback) akan disukai oleh pasar. Menurutnya, langkah buyback justru ini akan memberikan hasil yang lebih banyak.

"Karena neraca mereka dalam keadaan yang murni, setiap kali mereka melakukan penjualan aset, biasanya hanya mengembalikan return kepada pemegang saham," ujar Tech.

Di sektor pertambangan, tren untuk mengembalikan uang kepada pemegang saham menjadi strategi paska jatuhnya harga komoditas pada 2015-2016 lalu. Selain itu, ada tekanan dari investor untuk tidak membeli aset yang tidak memberikan keuntungan.

Rio Tinto telah melakukan pengembalian imbal hasil lebih besar ketimbang perusahaan tambang lainnya. Rio Tinto telah mengumumkan pada Agustus lalu untuk melakukan buyback sebesar 4 miliar dolar AS.

Di sisi lain, Rio Tinto sepakat untuk menjual aset tembaga di Indonesia kepada Freeport McMoran Inc. Namun masih belum diketahui kapan penjualan tersebut akan selesai.

Sementara itu, Norsk Hydro berencana membeli aset Rio Tinto, termasuk pabrik aluminium di Islandia. Pembelian akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari regulator Eropa. Selain itu, penjualan peleburan aluminium Rio Tinto di Paris yang diumumkan pada Januari lalu juga belum selesai.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA