Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Eksotisme Peradaban Islam di Mali

Kamis 20 Sep 2018 15:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Djinguereber di Timbuktu

Masjid Djinguereber di Timbuktu

Di kalangan para wisatawan dunia, Mali dikenal dengan eksotisme masjid-masjidnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada masa lalu, Mali pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Saat ini pun, Islam masih kental mewarnai denyut nadi kehidupan warganya.

Berlokasi di Afrika Barat, Mali menjadi negara yang diapit daratan dan Sahara. Negeri yang beribu kota di Bamako tersebut bertetangga dengan Pantai Gading, Aljazair, Nigeria, Burkina Faso, Guinea, Senegal, dan Mauritania. Muslim di negara seluas 1,24 juta kilometer persegi tersebut mencapai 12 juta jiwa atau sekitar 92,5 persen dari total penduduk 14,5 juta jiwa.

Sebagai umat mayoritas, Muslimin Mali hidup damai. Mereka sangat toleran pada penganut agama lain. Hubungan stabil tanpa ketegangan pun ditemukan antarpenganut agama.

Mereka saling berkunjung menghadiri perayaan pernikahan ataupun kematian. Kepercayaan tradisional pun telah berakulturasi dengan baik sehingga budaya Islam dan budaya asli setempat tak mengalami bentrok atau perselisihan.

Baca: Mali Negeri Peradaban Islam

Seperti halnya di negara Afrika lain, Muslimah Mali pun umumnya tak mengenakan jilbab sebagaimana dikenakan oleh Muslimah di Timur Tengah atau Asia Tenggara. Biasanya mereka mengenakan kerudung yang dililit menutup kepala dan rambut, tapi dengan leher tetap terbuka. Itulah penutup kepala khas Muslimah Afrika.

Di kalangan para wisatawan dunia, Mali dikenal dengan eksotisme masjid-masjidnya yang terbuat dari lumpur. Ada Masjid Agung Djenne dan Masjid Sankore.

Dibangun pada abad ke-13, Masjid Djenne terbuat seluruhnya dari lumpur. Inilah bangunan lumpur terbesar di dunia. Bersama Kota Tua Djenne, masjid ini ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada 1988.

Meski terbuat dari lumpur, bukan berarti bentuknya tak berarturan. Masjid Djenne yang mengusung gaya arsitektur Sudano-Sahelian bahkan tampak sangat cantik dan eksotis. Bangunan Masjid Djenne yang ada sekarang merupakan hasil renovasi pada 1907 menyusul terjadinya banjir yang melanda bangunan ini.

Baca: Jangan Merasa Paling Benar

Pascarenovasi  tersebut, masjid mengalami beberapa perubahan bentuk dibanding bentuk aslinya. Jumlah menara yang sebelumnya berjumlah dua ditambah satu agar simetris. Tiga menara tersebut berada di arah kiblat. Karena renovasi dilakukan oleh Prancis, beberapa pengamat menilai, gaya masjid tersebut sedikit dipengaruhi gaya gereja, tapi dengan desain dasar khas Afrika.

Masjid lumpur ini masih berdiri tegak hingga saat ini. Masyarakat setempat pun bahu-membahu melestarikannya. Sejak 1996, misalnya, mereka melarang non-Muslim memasuki masjid. Larangan ini bermula ketika majalah Vogue melakukan pemotretan di lokasi masjid dengan model wanita berbusana seronok.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA