Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Stefano Manzi Sebut Fenati Seperti Pembunuh

Rabu 12 Sep 2018 16:35 WIB

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Endro Yuwanto

Pembalap Marco Fenati (kiri) menarik tuas rem lawan saat balapan

Pembalap Marco Fenati (kiri) menarik tuas rem lawan saat balapan

Foto: YouTube
Saat Fenati menarik tuas remnya, saat itu ia dalam kecepatan lebih dari 200mph.

REPUBLIKA.CO.ID, MISANO -- Pembalap tim Forward Racing Stefano Manzi mengklaim aksi rivalnya Romano Fenati dapat membahayakan nyawa setiap rider di lintasan. Kedua pembalap saling sikut pada seri ke-13 Moto2 GP San Marino di Misano akhir pekan kemarin. Buntut aksi tersebut, Fenati dihukum dan bersiap meninggalkan dunia lintasan.

"Saya berpikir bahwa itu bukanlah keputusan tepat karena sikap seperti itu seharusnya tidak terpikirkan untuk dilakukan. Hal itu bisa membahayakan nyawa orang," ujar Manzi dikutip Tuttomotoriweb, Rabu (12/9)

Sejatinya saat balapan berlangsung, baik Manzi dan Fenati memang sempat terlihat menciptakan beberapa duel sengit. Bahkan, salah satu duel tersebut memaksa kedua pembalap keluar dari lintasan pada tikungan ke-14.

Aksi menyeramkan terjadi saat Fenati menekan tuas motor Manzi ketika motor sedang berada dalam akselerasi yang tinggi. Aksi tersebut jelas sangat mengancam nyawa rider tim Forward Racing.

"Semua dimulai dengan kontak yang lahir dari kesalahan Fenati yang sedikit melebar. Saya masuk dan kemudian ada kontak dan kami berdua berakhir di rumput luar lintasan," sambung rider berusia 19 tahun.

Pembalap berpaspor Italia itu menambahkan, ketika Fenati menarik tuas remnya, saat itu ia tengah dalam kecepatan lebih dari 200mph. Beruntung, Manzi tak kehilangan kendali motornya sehingga terhindar dari kecelakaan. "Ketika tuas rem menyentuh saya, saya melaju 217mph. Saya mengetahui maksudnya ketika ia mendekati saya dan melepaskan tangannya dari motor," aku Manzi.

Selepas balapan, kedua rider pun dipanggil oleh Race Director untuk mendengarkan penjelasan dari versi masing-masing terkait insiden memalukan. "Bagi saya itu tak bisa dimaafkan. Sebuah isyarat yang Anda gunakan untuk membunuh orang lain, karena pada 200 km per jam kita berbicara tentang mencoba membunuh seseorang. Anda tak bisa memaafkannya."

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA