Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

LSI: Golkar Terancam Jadi Partai Papan Tengah

Rabu 12 Sep 2018 16:13 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Ratna Puspita

Bendera Partai Golkar.

Bendera Partai Golkar.

Foto: dok. Republika/Aditya Pradana Putra
Kasus korupsi membuat elektabilitas Partai Golkar turun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus korupsi yang menjerat Partai Golongan Karya (Golkar) membuat elektabilitas partai langganan juara di era Orde Baru (Orba) turun. Bahkan, Golkar terancam menjadi partai papan tengah pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Berdasarkan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Golkar menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 hanya mencapai 11,3 persen. Peneliti LSI Adjie Alfaraby mengatakan saat ini elektabilitas Golkar berada di posisi ketiga, jauh di bawah PDIP 24,8 persen dan Partai Gerindra 13,1 persen.

"Posisi Partai Golkar saat ini, akan menjadi yang terburuk dalam sejarah pemilu partai Golkar di era reformasi," kata dia di Kantor LSI, Jakarta Timur, Rabu (12/9).

Adjie mengatakan, Golkar merupakan partai besar sejak Orba. Tak hanya itu, ia menambahkan, sejak reformasi Golkar  masih diperhitungkan karena memiliki pengalaman yang matang. 

Dalam empat pemilu sebelumnya, Golkar selalu dapat meraih posisi dua besar. Pada Pemilihan Umum Legistlatif (Pileg) 1999, Golkar meraih 22,4 persen suara, 21,6 persen suara pada 2004, 14,5 persen pada 2009, dan 14,8 persen pada 2014.

Menurut dia, perubahan dukungan dan posisi Golkar karena dua faktor utama. Pertama, tidak ada satupun kader atau tokoh yang identik dengan Golkar pada bursa calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Selain itu, Adjie menyebutkan, kasus korupsi yang menimpa mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan korupsi PLTU Riau yang menyeret sejumlah kader Golkar meninggalkan sentimen negatif pada partai berlambang pohon beringin tersebut. 

"Sentimen negatif belum diimbangi dengan mobilisasi sentimen positif, sehingga berpeluang menurunkan dukungan pada Golkar," kata dia.

Kendati demikian, Adjie mengatakan, Golkar masih berada di ambang batas naik ke partai utama dengan perolehan dukungan di atas 15 persen. Karena itu, lanjut dia, harus ada gebrakan besar dari Golkar untuk meraih suara.

"Jika tidak, Pemilu 2019 akan menjadi 'kuburan' bagi Golkar sebagai partai besar. Harus ada gebrakan dari partai Golkar untuk jadi papan atas," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA