Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Rupiah Melemah Dorong APBN, Menkeu: Ekonomi Lebih Baik

Senin 10 Sep 2018 14:59 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Friska Yolanda

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kanan), Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/9).

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kedua kanan), Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/9).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Pelemahan rupiah Rp 100 per dolar AS berpengaruh pada kenaikan penerimaan negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak positif pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sri menjelaskan, sesuai dengan sensitivitas APBN 2018, setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS dapat memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,6 triliun. Dengan APBN yang sehat, Sri optimistis perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. 

"Mengelola APBN itu bukan untung rugi. Kalau APBN sehat maka ekonomi lebih baik lagi," kata Sri dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (10/9). 

Sri menjelaskan, dengan postur APBN 2018, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 100 per dolar AS maka akan berpengaruh pada kenaikan penerimaan negara sebesar Rp 4,7 triliun. Sementara, dampaknya pada belanja negara adalah sebesar Rp 3,1 triliun. Oleh karena itu, dampak pelemahan rupiah pada APBN keseluruhan surplus Rp 1,6 triliun. 

Baca juga, Sri Mulyani: Pelemahan Rupiah Positif untuk APBN

Pemerintah berhasil menjaga tingkat defisit APBN 2018 di level Rp 150 triliun hingga 31 Agustus 2018. Angka itu lebih kecil dibandingkan defisit pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 225 triliun. 

"Ini perbaikan dari sisi APBN kita dan kami tetap akan menjaga fiskal secara hati-hati," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (10/9). 

Sri merinci, realisasi penerimaan negara hingga Agustus 2018 mencapai Rp 1.152 triliun atau 60,8 persen dari target dalam APBN 2018. Angka itu tumbuh 18,4 persen dibandingkan penerimaan negara dalam periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 11 persen.

Sri mengatakan, pertumbuhan penerimaan perpajakan juga menunjukkan kenaikan solid. Dia menyebut, pertumbuhan penerimaan perpajakan hingga Agustus 2018 adalah sebesar 16,5 persen sementara pertumbuhan penerimaan dalam periode yang sama tahun lalu sebesar 9,5 persen.

Sementara, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh 24,3 persen hingga Agustus 2018 dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dalam periode yang sama tahun lalu yang sebesar 20,2 persen. "Pertumbuhan penerimaan negara dengan situasi dinamis ini masih menunjukkan kenaikan solid," kata Sri. 

Dari sisi belanja negara, Sri menyebut kinerjanya tetap positif. Dia mengatakan, hingga Agustus 2018 belanja negara tumbuh 8,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 5 persen.

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA