Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

Belajar Praktik Mengajar Sederhana dari Australia

Sabtu 22 Des 2018 03:25 WIB

Red: Esthi Maharani

kegiatan belajar mengajar: Guru (tengah)  berinteraksi pada kegiatan  belajar mengajar di Sd Negeri 1, daan Mogot, Tangerang, banten, Selasa  (2/9). Para guru diharapkan  menjadi fasilitator yang aktif sehingga setiap siswa terdorong  untuk selalu mencari

kegiatan belajar mengajar: Guru (tengah) berinteraksi pada kegiatan belajar mengajar di Sd Negeri 1, daan Mogot, Tangerang, banten, Selasa (2/9). Para guru diharapkan menjadi fasilitator yang aktif sehingga setiap siswa terdorong untuk selalu mencari

Foto: ANTARA/LUcky R
Guru di Australia lebih pada melibatkan langsung anak didiknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG -- Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal menceritakan, kegiatan belajar di Australia mampu menginspirasinya mendeklarasikan aksi dalam pendidikan. Terlebih efek pengajaran di 'Negeri Kangguru' tersebut terasa efeknya pada anak pertamanya.

Materi tentang lingkaran merupakan salah satu pengajaran yang paling diingat. Sebab, anak pertamanya mendapatkan pembelajaran tersebut saat duduk di kelas lima SD. Namun yang menjadi perhatian Rizal bukan materinya, tapi metode pengajaran sang guru.

"Mereka duduk membentuk lingkaran di kelas, gurunya duduk di tengah-tengah," kenang Rizal saat menjadi pemateri di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, belum lama ini.

Di kegiatan tersebut, sang guru memberikan pertanyaan mengapa π memiliki nilai 3,14. Suatu pertanyaan yang tak disangka-sangka bagi Rizal. Sebab, materi tersebut biasanya dibahas di bangku kuliah di Indonesia.

Untuk memecahkan masalah itu, guru membagi peserta didiknya dalam beberapa kelompok. Mereka diminta mencari jawaban dengan beberapa pilihan metode. Peserta didik dibebaskan mencari, baik di internet, perpustakaan, menganalisis bentuk lingkaran di sekitar dan sebagainya.

Setelah menemukan jawaban, guru meminta siswanya untuk mempresentasikan di depan kelas. Dengan konsep ini, guru bisa menilai aspek komunikasi, kompetensi, kolaborasi dan kerjasama peserta didiknya.

Sistem penilaian proses pembelajaran ini sangat berbeda jauh dengan yang diterapkan di Indonesia. "Kita selama ini lihat di hasil, bukan prosesnya itu," jelasnya.

Contoh lain, Rizal menjelaskan, di mana anak kelas enam SD mendapatkan materi pembelajaran ihwal kepemimpinan. Di kegiatan ini, guru bukan sekedar menjelaskan makna harfiah dari kepemimpinan. Namun mereka lebih pada melibatkan langsung anak didiknya.

"Siswa diminta mencari pemimpin dunia atau tokoh bermanfaat dunia yang ingin siswa jadi orang itu. 'Cari bukunya dan pelajari selama satu pekan. Lalu jelaskan kenapa dia (tokoh yang dipilih) bisa menjadi tokoh berpengaruh dunia lalu apa yang akan kamu (siswa) lakukan agar bisa jadi pemimpin dunia'," katanya.

Anak pertama Rizal mempelajari tokoh Malala dengan referensi tiga buku. Ketiga buku tersebut memiliki ketebalan yang cukup tinggi untuk anak sekolah dasar. Setelah membaca, sang anak diminta mempresentasikan hasil pemahaman termasuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru.

"Jadi cara mengajar mereka, bukan tanya 'siapakah Malala itu? Apa bentuk kepemimpinannya?' Bukan seperti itu," tambahnya.  

Melihat fakta ini, Rizal berpendapat, pemikiran kritis Indonesia jelas tertinggal hampir 150 tahun dengan negara maju. Alasannya, semua berpusat pada metode pengajaran Indonesia yang masih tradisional. Kebanyakan pengajar di Indonesia lebih berfungsi sebagai korektor semata.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA