Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Peserta SBMPTN Jakarta, Tangsel, Depok Meningkat 8 Persen

Selasa 08 May 2018 21:40 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Andri Saubani

Ujian SMBPTN Berkebutuhan Khusus. Peserta mengikuti Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN) 2018 dengan ujian tulis berbasis komputer di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5).

Ujian SMBPTN Berkebutuhan Khusus. Peserta mengikuti Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN) 2018 dengan ujian tulis berbasis komputer di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5).

Foto: Republika/ Wihdan
Panlok SBMPTN Jakarta termasuk yang cukup besar hingga 74 ribu peserta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri(SBMPTN) Panlok 30 Jakarta, Tangsel, Depok berjumlah 74.927 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan sekitar sebesar 8 persen dari jumlah peserta tahun lalu.

"Panlok Jakarta termasuk yang cukup besar, ada 74 ribu peserta. Jumlah ini mengalami kenaikan sekitar 8,9 persen," kata Ketua Panlok 30 Jakarta, Bambang Wibawarta, usai melakukan tinjauan pelaksanaan SBMPTN di Universitas Indonesia, Selasa (8/5).

Untuk peserta ujian Saintek sebanyak 29.175 orang. Sementara peserta untuk Soshum adalah 40.131 orang. Dari jumlah tersebut 14 peserta ujian adalah penyandang disabilitas. 11 di antaranya melakukan ujian di UI.

Pada tahun ini, SBMPTN memiliki dua metode ujian. Pertama adalah Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Sementara itu, dilakukan juga betbasis android namun untuk tahun ini hanya dilakukan di Universitas Padjadjaran Bandung.

Beberapa hal disiapkan untuk meningkatkan keamanan dan meminimalisir kecurangan dalam pelaksanaan SBMPTN. Menurut Sekretaris Panlok 30 Jakarta, Untung Yuwono sebanyak sekitar 4.000 orang pengawas bertugas menjaga pelaksanaan SBMPTN tersebut. Selain itu, beberapa standar pelaksanaan SBMPTN seperti jumlah kursi sangat diperhatikan oleh panitia.

"Satu ruang ujian harus ada 20 set meja dan kursi dan untuk yang berbasis komputer 20 unit komputer dengan jarak yang sudah ditetapkan. Jadi ada standar-standar yang dilakukan untuk mencegah kecurangan. Setiap laporan kita sikapi kita tidak berdiam diri," kata Untung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA