Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Ini Dampak Buruk Memaksakan Calistung untuk Usia Dini

Kamis 21 Feb 2019 19:00 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Dwi Murdaningsih

Belajar Matematika dan IPA dengan Menyenangkan. Anak-anak mengikuti materi Fun Science di Kantor Harian Republika, Jakarta, Sabtu (2/2/2019).

Belajar Matematika dan IPA dengan Menyenangkan. Anak-anak mengikuti materi Fun Science di Kantor Harian Republika, Jakarta, Sabtu (2/2/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Jangan sampai anak merasa terbebani dan terpaksa dalam belajar calistung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog dan praktisi pendidikan, Najeela Shihab mengatakan keterampilan baca, tulis, dan hitung (calistung) harus diperhatikan untuk jangka panjang. Ia mengatakan, kemampuan calistung yang dipaksakan akan berdampak buruk di masa depan. 

Baca Juga

"Kalau dalam kaitannya calistung itu banyak anak yang dipaksakan kemudian merasa terbebani dan motivasinya untuk meningkatkan calistung malah turun karena pengalamannya bukan pengalaman menyenangkan," kata Najeela pada Republika.co.id, Kamis (21/2). 

Seorang anak yang dipaksa memahami calistung di usia dini bisa jadi melihat hal tersebut sebagai hal yang tidak menyenangkan. Ke depannya, anak tersebut mungkin akan memiliki kemampuan membaca namun tidak gemar membaca karena pengalaman belajar yang dipaksakan. 

Demikian juga dengan menulis ataupun menghitung. Seorang anak mungkin akan memilki kemampuan berhitung sederhana lebih cepat dari teman-temannya pada usia dini, namun di masa depan dia akan sulit memahami hubungan berhitung untuk kehidupan sehari-hari. 

Dampak lainnya adalah anak yang dipaksakan memahami calistung bisa jadi menganggap belajar adalah hal yang membosankan. Bukan tidak mungkin anak tidak memiliki kesadaran untuk belajar pada saat usianya sudah lebih besar. 

Lebih lanjut, Najeela menjelaskan keterampilan anak dalam calistung bukanlah standar kecerdasan. Sebab, kemampuan calistung hanyalah salah satu dari aspek perkembangan seorang anak. 

"Mungkin pada aspek membaca belum optimal tapi kemampuan fisiknya baik atau kemampuan sosialisasinya sudah lebih baik, jadi kita harus melihat anak secara utuh bukan cuma sekadar calistung saja," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA