Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Relawan Pendidikan Pulau Bacan: Purnama di Ujung Penantian

Kamis 14 Feb 2019 19:21 WIB

Red: Budi Raharjo

Anak-anak Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Anak-anak Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Foto: Dompet Dhuafa Pendidikan
Ada anak yang bolos sekolah karena baju seragamnya masih basah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika pendidikan di negeri ini sudah baik mungkin tidak akan ada lagi yang namanya relawan. Relawan pendidikan khususnya. Kita ada karena kita mengerti Indonesia membutuhkan kita.

Kita hadir sebagai panggilan hati sehingga mengikat jiwa ini untuk tergerak walaupun tak banyak yang dapat kita berikan. Hanya menjadi lilin kecil untuk menerangi pendidikan. Tapi jikalau lilin ini kita satukan dari ujung Sabang hingga Papua, saya rasa pasti akan mampu untuk menjadi pelita harapan Bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.  

Ya ini adalah sepenggal pembuka dari saya sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa Pendidikan penempatan Halmahera Selatan, Maluku Utara. Pada hari ini 24 januari 2019 sudah lima Purnama yang lalu saya terdampar di sebuah pulau yang bernama Bacan.

Dipulau inilah saya akan menghabiskan tujuh purnama berikutnya untuk mencoba memberi arti, banyak sekali suka dan duka yang saya lalui selama lima bulan ini. Sukanya, kita banyak menemukan hal baru ketika di penempatan baik keluarga baru, budaya baru serta pengalaman baru. Dukanya, kita harus jauh meninggalkan keluarga serta temen-temen.

Banyak sekali hal-hal menarik yang saya temui salama lima bulan ini di penempatan terkhusus di bidang pendidikan. Saya, Wawan Saputra, tinggal di suati Desa yang bernama Desa Kubung. Desa ini terletak di pesisir pantai dan memiliki satu sekolah yaitu MI dan MTs Al-Ikhlas. Otomatis anak-anak warga desa Kubung menyekolahkan anaknya di Madrasah ini dan saya bertugas di sekolah tersebut.

Ketika saya pertama kali masuk, banyak sekali hal-hal menarik di anak-anak. Seperti baju sekolah hampir rata-rata tidak seragam bahkan banyak yang tidak pakai sepatu hanya pakai sandal jepit saja. Belum lagi tingkat membolos anak-anak termasuk tinggi.

Pernah ada satu anak yang saya temui dijalan, dia tidak sekolah. Terus saya bertanya kenapa tidak sekolah? Anak itu menjawab baju seragam saya basah pak. Simpel sekali bukan jawaban anak ini. Dan masah banyak lagi permasalahan-permasalahan yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu Madrasah ini mulai berubah dengan sosialisasi program. Kita mencoba menanamkan mindset pentingnya pendidikan bagi masyarakat terutama orang tua wali murid MI dan MTs Al-Ikhlas.

Keadaan mulai berubah. Anak-anak sudah mulai rapi ketika berangkat ke sekolah dan tingkat bolos sekolah intesitasnya juga agak sedikit berubah. Peraturan-peraturan sekolah juga sudah mulai ditegakkan dan proses pembelajaran di kelas pun sudah mulai berubah kearah yang lebih baik lagi.

Ini hanya sepenggal cerita di balik lima purnama pengabdian yang sudah saya jalani. Masih ada tujuh purnama lagi menuju purnama yang paripurna. Intinya bukan seberapa banyak kita memberi, tapi ialah seberapa nikmat kita menjalaninya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA