Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Mengenal Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan

Selasa 12 Feb 2019 14:41 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Budi Raharjo

Direktur Operasional PT Republika Media Mandiri Arys Hilman dan Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa Muhammad Syafi'ie el-Bantanie menandatangani kerja sama pemberitaan program Sekolah Literasi Indonesia, Jakarta, Senin (11/2).

Direktur Operasional PT Republika Media Mandiri Arys Hilman dan Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa Muhammad Syafi'ie el-Bantanie menandatangani kerja sama pemberitaan program Sekolah Literasi Indonesia, Jakarta, Senin (11/2).

Foto: Republika/Budi Raharjo
Kegiatan belajar mengajar bisa di mana saja. Bisa di bawah pohon atau saung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai lembaga yang peduli terhadap pendidikan, Dompet Dhuafa memiliki program Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sebuah model sekolah yang berupaya meningkatkan kualitas sistem pembelajaran dan pengembangan budaya sekolah berbasis literasi.

"Kami mengembangkan peta taktis literasi, yaitu bagaimana kompetensi literasi anak-anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah mulai dari kelas satu sampai enam dapat dicapai," kata Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Muhammad Syafi'ie el-Bantanie di Kantor Republika, Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Menurutnya, jika kompetensi peta taktis literasi itu tercapai, maka nantinya anak-anak ketika melanjutkan ke tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama atau Madrasah Tsanawiyah, mereka sudah punya kebiasaan membaca, menulis, dan mengeksplorasi sumber-sumber informasi. Dia mengharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi pelajar-pelajar yang sangat kuat kemampuan literasinya dan menjadi seorang pemimpin sosial di masyarakat kelak.

Selain ingin menguatkan literasi, program tersebut juga menguatkan manajemen sekolahnya. "Program penguatan literasi yang didampingi dengan adanya perpustakaan, sudah pasti harus didukung manajemen sekolah," ucapnya.

Artinya, pihak Dompet Dhuafa juga akan mengintervensi manajemen sekolah untuk bisa meningkatkan budaya literasi di sekolah tersebut dengan membuat program-program yang bisa memantik semangat literasi anak-anak. Program unggulan yang diterapkan di SLI salah satunya ada Ceruk Ilmu, yaitu penyediaan sudut baca di setiap kelas.

Dia menjelaskan, sudut baca ini bermanfaat ketika guru selesai menjelaskan sebuah pelajaran atau dalam pelajaran itu sendiri. Guru bisa menstimulasi siswa untuk mencari informasi dari bahan bacaan yang ada di Ceruk Ilmu tersebut. Bisa berupa analisis sebuah masalah, Discovery Learning (belajar menemukan sesuatu). Menurutnya, dari situlah literasi anak-anak akan terlatih.

Kemudian ada pula program Gemari Baca, yaitu bagaimana SLI membuat semacam perlombaan-perlombaan atau aktifitas rutin sepeti Book Sharing, Lomba Menulis Puisi, Public Speaking, atau forum debat. Tujuannya untuk menumbuhkan minat dan semangat membaca anak-anak. Dari membaca kemudian mengartikulasikan melalui perlombaan atau aktifitas rutin tersebut.

"Jadi sebetulnya, bicara literasi ini kemudian tidak sekadar membaca, tetapi anak-anak juga mampu mengartikulasikan baik melalui lisan atau tulisan," ujar Syafi'ie. Dengan adanya lomba puisi atau membuat mading sekolah, itu dianggapnya sebagai bagian dari penguatan kompetensi literasi di Sekolah Literasi Indonesia.

Dia mengatakan SLI ada yang berbasis pendidikan formal dan ada pula yang nonformal. Saat ini, sudah terdapat total 48 Sekolah yang tersebar di 23 kota/kabupaten dan 16 provinsi di seluruh Indonesia.

SLI nonformal kebanyakan berada di titik perbatasan, seperti di Meranti dan Kalimantan Sebatik. Disebut nonformal karena tidak ada infrastruktur pendidikan yang mendukung. "Misalnya, sekolah formal untuk belajar harus ada ruang kelas, sedangkan di daerah pedalaman, gak mungkin kita atur dari awal untuk membangun ruang kelas atau infrastruktur lainnya," jelas Syafi'ie.

Menurutnya, kegiatan belajar mengajar bisa di mana saja. Bisa di bawah pohon atau saung, misalnya. Sembari terus berkembang, jika pemerintah bersedia bekerja sama, ia mengatakan SLI nonformal bisa dialihfungsikan menjadi SLI formal.

SLI yang dibuat nonformal juga disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Tidak mengikuti kurikulum pemerintah, tetapi membuat kurikulum yang bisa sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Misalnya di Suku Akit, Meranti, ketika ditemukan data banyak anak-anak atau remaja di sana yang belum pernah mengenyam pendidikan, maka yang perlu diberikan pertama-tama adalah kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Setelah selesai, akan dinaikkan tingkat materi pengajarannya. Jadi, menurut Syafi'i SLI nonformal berarti sekolah yang memang tidak bisa distandarkan dengan kurikulum pemerintah.

Sedangkan di daerah lain seperti desa-desa, banyak yang sudah berstatus sekolah formal. Baik itu SD atau MI. Kurikulumnya mengikuti kurikulum pemerintah tetapi diperkaya. "Tetap harus memiliki ciri khas program Sekolah Literasi Indonesia," katanya.

photo

Sekolah Literasi Indonesia.

Mengenai tenaga pengajar, untuk masa awal ada tim Dompet Dhuafa Pendidikan yang dikirim ke SLI yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Namun, selanjutnya pihak Dompet Dhuafa akan mengader tenaga-tenaga pendidik lokal untuk bisa menjadi guru. Meski tantangannya tidak mudah, dia mengatakan Tim Dompet Dhuafa akan melatih orang-orang yang berpotensi di wilayah-wilayah setempat untuk menjadi tenaga pengajar.

"Dari kami menyediakan tenaga pendamping program, Jadi, di tiap SLI ada pendamping dari kami yang memastikan program ini berjalan sesuai dengan desain yang kami buat," ucap Syafi'ie.

Tim Dompet Dhuafa pun membuka rekrutmen bagi mereka yang ingin menjadi tenaga pendamping program atau biasa disebut sebagai "Kawan" yaitu Konsultan Relawan untuk Sekolah Literasi Indonesia. Mereka akan dilatih selama kurang lebih 3 minggu di SMART School Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa, Bogor.

Setelah itu, mereka akan dikirim ke daerah-daerah untuk menjalankan tugasnya. Syafi'i mengatakan syarat untuk menjadi Kawan, minimal memiliki gelar Sarjana umum yang artinya semua jurusan diperbolehkan. Hal itu karena di masa awal pelatihan Kawan, Tim Dompet Dhuafa akan memberikan semua alat dan kompetensi yang harus dimiliki.

"Selama tiga minggu kita latih semuanya sehingga harapannya, walaupun tidak berasal dari jurusan kependidikan, mereka mempunyai kompetensi untuk menjalankan program Sekolah Literasi Indonesia di daerah penempatan masing-masing selama kurang lebih satu tahun," pungkasnya.

Republika.co.id dan Dhompet Duafa menjalin kerja sama untuk menyokong pemberitaan mengenai Sekolah Literasi Indonesia. Nota kesepahaman kerja sama itu diteken, Senin (11/2) kemarin.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES