Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Guru Madrasah Diminta Kedepankan Akhlak

Ahad 11 Nov 2018 07:22 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Esthi Maharani

Seorang guru sedang mengajar di madrasah (ilustrasi)

Seorang guru sedang mengajar di madrasah (ilustrasi)

Foto: Republika/Damanhuri Zuhri
Akhlak itu lebih tinggi dari syariat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) menggelar kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Deradikalisaai, Wasasan kebangsaan dan moderasi Islam bagi guru dan tenaga kependidikan. Acara ini diadakan Bekasi, Sabtu (10/11).

Sebagai pembicara, KH Masdar Farid Mas’udi, mengatakan akhlak merupakan bagian dari implementasi syariat. Ibadah yang benar akan membentuk akhlak yang baik, sementara syariat adalah garis start.

"Setelah syariat dilampaui maka akhlak juga harus diterapkan. Akhlak itu lebih tinggi dari syariat," katanya dikutip dari situs resmi Kemenag, Sabtu (10/11).

Kegiatan ini diselenggarakan Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) dan diikuti para guru madrasah.

Menurut Kyai Masdar, pendidikan karakter, deradikalisasi, serta penanaman wawasan kebangsaan dan moderasi Islam, sangat penting untuk  berorientasi  kepada akhlak. Sebab, sejak awal, Islam datang ke Indonesia melalui pendekatan akhlak.

"Jika seseorang berorientasi mengutamakan  akhlak, ketika disakiti lalu membalas dengan senyuman dan memaafkan, tanpa melihat apa agamanya. Maka yang terjadi adalah hubungan persaudaraan," jelasnya.

Kyai Masdar pun mengajak para guru untuk selalu mengutamakan akhlakul karimah dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, melabeli negara dengan suatu agama tertentu tidak menjadikan negara mendapat gelar negara terbaik.

"Karena negara itu tidak mungkin satu warna dan pesan Islam tentang negara adalah tentang keadilan,  itu saja yang harus diterapkan," ujarnya.

Kyai Masdar juga mengajak guru madrasah untuk menghindari bentuk fanatisme berlebihan, karena itu  akan memunculkan radikalisme. Dari radikalisme, akan muncul ekstrimisme yang berujung pada terorisme.

"Maka untuk menanggulanginya harus ada penguatan Islam yang ramah (rahmatan lil ‘alamin) dan moderat serta yang Rahman dan Rahim," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES