Minggu, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Minggu, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Serunya Sekolah Ibu

Jumat 10 Agustus 2018 14:20 WIB

Red: Muhammad Hafil

Suasana di dalam kelas Sekolah Ibu di Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, beberapa waktu lalu.

Suasana di dalam kelas Sekolah Ibu di Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, beberapa waktu lalu.

Foto: Muhammad Hafil/Republika
Sekolah Ibu bertujuan untuk membangun generasi unggul dari rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil/Wartawan Republika.co.id

Di depan 30 orang ibu-ibu yang menjadi peserta Sekolah Ibu di Kantor Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Firda Nianty, yang menjadi tutor (tenaga pengajar) memberikan PR (pekerjaan rumah). “Untuk PR-nya, ibu harus menuliskan apa yang dirasakan tentang anak-anak di rumah!” kata Firda di akhir pelajaran, Senin (23/7).

Misalnya, menuliskan tentang “saya merasa senang jika anak mau belajar tanpa disuruh” atau “saya merasa senang jika anak-anak mendengar nasihat saya”.  “Tujuannya agar ibu-ibu bisa menulis dengan kata-kata yang baik sehingga melatih berpikir dulu sebelum berkata-kata,” ujar Firda.

Artinya, Firda menjelaskan, setiap kata-kata yang dikeluarkan di rumah akan berpengaruh kepada anak. Dengan berbicara yang baik-baik, bisa membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak di rumah.

Ini merupakan pertemuan kedua Sekolah Ibu di Kelurahan Ciluar. Ada 30 orang yang menjadi pesertanya. Durasi belajar memakan waktu dua jam mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Selama belajar, tak sedikit ibu-ibu itu yang membawa anak-anaknya.

Selama pelajaran berlangsung, para peserta mengikuti dengan antusias. Kegiatan dimulai dengan meneriakkan yel-yel yang dipandu oleh tutor. Setelah itu, mereka diajak mengikut sebuah permainan yang berkaitan dengan materi pada saat itu, yaitu tentang ketahanan keluarga.

Para peserta dibagi lima kelompok, kemudian masing-masing kelompok berlomba sambil berlari di dalam kelas yang kursinya sudah dipinggirkan untuk menyusun bekas botol air mineral gelas menjadi sebuah piramida. Setelah tersusun rapi menjadi piramida, tutor mengibas-ngibaskannya dengan kipas.

Piramida yang fondasinya tidak kuat, maka akan mudah terjatuh, sedangkan yang kuat tidak mudah jatuh. Kelompok yang piramidanya tidak jatuh inilah yang menjadi pemenang. “Nah inilah, kalau ketahanan keluarga kita kuat, maka tidak akan mudah diempas gelombang dan masalah,” kata Intan, tutor lainnya. Setelah permainan, barulah tutor memaparkan materinya.

photo

Ibu-ibu peserta Sekolah Ibu di Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, sedang melakukan permainan yang terkait dengan materi tentang 'ketahanan keluarga'.

Sekolah Ibu diresmikan pada Selasa (17/7) lalu oleh Pemkot Bogor dan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor. Sekolah Ibu ini ada di masing-masing 68 kelurahan di Kota Bogor.

Peserta pada tiap kelurahan berjumlah 30 orang. Totalnya pada angkatan pertama ini berjumlah 6.120 orang. Waktu belajar dilakukan dua kali selama sepekan, yaitu Senin dan Kamis. Setiap pertemuan, ada satu modul yang diajarkan. Jumlah modulnya mencapai 20 materi selama 20 kali pertemuan atau 10 pekan.

Ketua Pokja 4 Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Bogor, Meira Sophia, menjelaskan, program Sekolah Ibu ini dirancang sejak dua tahun lalu. Di mana, TP PKK Kota Bogor melihat permasalahan yang ada pada anak-anak, seperti penyalahgunaan narkoba, kekerasan, hingga perilaku seksual menyimpang, hingga dampak perceraian orang tua.

Nah, semua permasalahan ini, titik pangkalnya di pendidikan di rumah. Sementara yang lain itu, seperti sekolah, sikapnya mem-back up,” kata Meira kepada Republika.co.id.

Jadi, pendidikan keluarga ini terbentuk bagaimana pola asuh orang tua kepada anak-anaknya. Inilah yang akan membentuk karakter anak. Baru, pendidikan kedua bagi anak ada di luar, yaitu sekolah dan lingkungan masyarakat. 

Secara umum, lanjut Meira, pendidikan di rumah itu lebih banyak tercurah kepada ibu. Ini karena para suami atau ayah bekerja di luar. Namun, inilah yang menjadi kekuatan ibu. Seorang ibu bisa menjadi guru di rumah, menjadi dokter di rumah, menjadi pengatur keuangan keluarga, hingga menjadi teman diskusi atau psikolog bagi anak-anak dan suaminya.

“Peran ibu ini sangat multifungsi. Karena itulah, dengan berbagai macam keunggulan ibu yang multifungsi itu, harus ditambah kemampuannya,” kata Meira.

Selanjutnya, Tim TP PKK Kota Bogor menyusun modul dan materi. Hal itu tidak dilakukan sendirian, tetapi juga melibatkan akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), terutama di bidang ketahahan keluarga. Kemudian, modul itu disusun hingga menjadi 20 materi.

Bab pertama, bertema tentang gerbang menuju pernikahan. Meskipun ibu-ibu ini sudah berkeluarga, mereka perlu diingatkan kembali tentang urgensi ketahahan keluarga dan konsep dasar perkawinan serta fungsi pokok keluarga. Selain itu, tentang kesehatan reproduksi, mengenal otak dan kepribadian manusia, serta menggali potensi diri.

Bab kedua, bertema tentang membangun keluarga bahagia. Adapun materinya menyangkut rumah sehat, manajemen keuangan keluarga, komunikasi efektif suami istri, pertolongan pertama pada keluarga, peningkatan kesehatan keluarga, serta manajemen konflik dan stres.

Sedangkan bab terakhir membahas tentang membangun generasi unggul. Materinya mencakup nilai, pola asuh, serta membangun komunikasi dengan anak, komunikasi pada remaja, pembagian peran dalam keluarga, pendidikan seks, etika berpakaian, lima kunci keamanan pangan, hingga keluarga cinta Tanah Air.

Adapun tutor berjumlah 68 orang dengan latar belakang profesi mengajar tentang ilmu ketahanan keluarga. Seperti manajemen keluarga, manajemen keuangan keluarga, mengelola potensi diri, dan memahami kepribadian anggota keluarga.

Para tutor  memiliki kriteria tertentu selain memiliki latar belakang pendidikan. Yaitu, sudah menikah, memiliki anak, pendidikan minimal S-1, dan status pernikahannya utuh.

Soal membangun generasi unggul ini, Meira berharap dengan ikutnya ibu-ibu ini sebagai seorang pendidik di rumah, bisa mempersiapkan generasi unggul. Di antaranya, para ibu mengajarkan anak menghadapi gangguan dari luar, komunikasi yang baik dalam pendidikan. “Dan, ujung-ujungnya kita ingin dengan peran ibu ini, anak-anak sukses dalam pendidikannya,” kata Meira.

Dengan Sekolah Ibu ini, ibu juga diharapkan membangun komunikasi yang baik dengan suaminya sehingga komunikasi dalam keluarga dan anak bisa berjalan baik. Ayah juga bisa berbagi peran dengan membangun komunikasi yang baik dengan anak.

photo

TP PKK Kota Bogor dan peserta Sekolah Ibu di Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Manfaat

Setelah modul sudah tersusun, TP PKK Bogor membuat pilot project di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur. Di sini,  30 orang ibu yang punya anak balita dan usia sekolah dipilih menjadi peserta. Selama 10 pekan itu, mereka diberikan materi 20 modul tadi. Ada beberapa peserta yang merasakan manfaat dari Sekolah Ibu ini.

Misalnya, ada seorang ibu yang tidak ingin disebutkan namanya, dia sudah mendaftar di  Sekolah Ibu ini. Namun, dia menyatakan mundur. “Waktu itu saya berpikir percuma ikut Sekolah Ibu. Karena, saya dan suami saya sudah hampir bercerai,” kata ibu itu.

Namun, dia disemangati oleh TP PKK Kota Bogor untuk mengikuti program ini sampai selesai. Akhirnya, dia pun mau dan ikut hingga akhir pelajaran. “Hasilnya, saya tidak jadi bercerai dengan suami saya, karena di situ saya paham bahwa ada peran kedua orang tua dalam pendidikan anak,” ujar ibu itu. Dia sadar, perceraian bisa berdampak pada psikologis anaknya dan bisa berdampak pada pendidikan di sekolah.

Atau, ada juga peserta di Kelurahan Katulampa yang juga meminta namanya tidak disebutkan. Dia mengaku sulit sekali berkomunikasi dengan anaknya. “Kalau sampai rumah, anak saya langsung murung di kamar, mungkin dia takut handphone-nya saya buka-buka atau sidak,” kata ibu itu.

Namun, setelah mengikuti Sekolah Ibu, dia tahu artinya komunikasi dua arah dengan anak. Dia kemudian mempraktikkan dengan mengajak anaknya berbicara dari hati ke hati yang selama ini belum pernah dilakukan. “Karena saya di rumah juga main handphone terus,” kata ibu itu. Ini karena selama di Sekolah Ibu, juga diajarkan tentang bagaimana hidup di era teknologi canggih, seperti gawai dan internet, yang sudah masuk ke rumah.

Melihat manfaat yang diperoleh ibu-ibu peserta Sekolah Ibu itu, TP PKK pun menyatakan nantinya Sekolah Ibu ini akan dikembangkan. Mungkin, nantinya akan diberikan waktu khusus di akhir pekan untuk para ibu yang bekerja sehingga para ibu di Kota Bogor ini banyak yang mengikuti Sekolah Ibu ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES