Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Mendikbud Resmikan Kampung Matematika Laladon

Sabtu 11 Apr 2015 16:35 WIB

Red: Esthi Maharani

Anak jago matematika/ilustrasi

Anak jago matematika/ilustrasi

Foto: educationnews.org

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meresmikan Kampung Matematika Laladon, Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/4).

"Hari ini kami meresmikan Kampung Matematika Laladon. Itu menunjukkan bukan tidak mungkin pendidikan sebagai gerakan," ujar Anies.

Di kampung tersebut, lanjut dia, pendidikan terutama pelajaran matematika dilaksanakan sebagai gerakan.

"Masyarakat di sini berhasil menjadikan matematika sebagai hal yang menyenangkan. Kalau sudah menyenangkan, maka pelajaran itu tidak berat lagi," katanya menambahkan.

Di Laladon, hampir setiap rumah menyelenggarakan pelajaran matematika dengan bayaran seikhlasnya. Pengajarnya adalah sarjana matematika dari berbagai universitas ternama di Tanah Air.

Proses pendidikan tersebut dikelola Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Seikhlasnya dan sudah berlangsung sejak 2001. Lebih dari 1.000 alumni ikut dalam olimpiade matematika tingkat internasional.

"Proses pendidikan ini berlangsung tanpa memerhatikan bangunan. Jadi untuk kualitas yang tinggi tidak memerlukan biaya yang tinggi."

Pendiri KPM Seikhlasnya, Ridwan Hasan Saputra, mengatakan KPM bermula dari sebuah rumah tipe 21.

"Kampung Matematika ini adalah hasil proses panjang dari perjuangan keikhlasan," kata Ridwan.

Pada awal pendiriannya, sangat sedikit anak yang mau belajar matematika. Pada saat itu, ia masih menggunakan patokan tarif.

Ridwan membuat terobosan dengan menghapus patokan tarif. Ridwan meletakkan sebuah kotak, yang mana para orang tua memberikan uang seikhlasnya.

Pada 2007, Ridwan berhasil membawa empat anak didiknya bertanding dalam olimpiade matematika tingkat SD di India dan meraih tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. Sejak itu, KPM tersebut dikenal oleh masyarakat.

"Awalnya, saya membentuk kampung ini di tempat lain. Tapi terlalu individualis. Akhirnya di kampung ini, karena masih ada budaya ramah tamah," kata Ridwan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA