Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

2022, Indonesia Targetkan Mampu Buat Baterai Lithium

Sabtu 01 Jun 2019 13:22 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Dwi Murdaningsih

Baterai/ilustrasi

Baterai/ilustrasi

Indonesia sedang membangun teknologi untuk membuat baterai lithium.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menargetkan pada tahun 2022 Indonesia mampu menghasilkan baterai lithium secara mandiri. Kebutuhan akan baterai lithium kedepannya akan semakin meningkat, seiring dimulainya industri motor listrik dan mobil listrik di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Nasir saat mengunjungi Pusat Pengembangan Bisnis dan Unit Produksi Baterai Lithium Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jumat (31/5). Nasir menjelaskan saat ini Indonesia sedang mengembangkan teknologi guna memproses bahan baku lithium di Halmahera dan diperkirakan tahun 2021 sudah terbangun.

"Saat Halmahera sudah terbangun, bahan baku lithium sudah tersedia. Maka tahun 2022 atau 2023 kita sudah bisa memproduksi baterai lithium secara mandiri. UNS sudah jalan, tinggal membuat sistem otomatisasi," ujar Nasir, dalam keterangan resmi.

Ia juga mengapresiasi UNS yang telah mengembangkan baterai lithium ion sejak tahun 2012 dan saat ini sudah masuk dalam industri. Ia mengatakan baterai merupakan komponen penting bagi industri motor dan mobil listrik, oleh karena itu Indonesia harus mampu menghasilkan baterai lithium secara mandiri.

Dia juga berharap ke depan baterai bisa menjadi salah satu alternatif energi terbarukan yang ada di Indonesia. Sebab, saat ini energi fosil ketersediaannya sangat terbatas. Para peneliti dituntut senantiasa dapat mengembangkan inovasi di bidang ini demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Pada kesempatan yang sama Rektor UNS Jamal Wiwoho melaporkan tentang Pengembangan baterai lithium UNS yang dimulai sejak tahun 2012 sejalan dengan pencanangan program Mobil Listrik Nasional (MOLINA). Baterai lithium yang dikembangkan UNS saat ini dapat diaplikasikan untuk kendaraan listrik dan alat penyimpan energi dari pembangkit energi yang terbarukan.

Selain itu ia menyampaikan, sampai saat ini sebagian besar bahan material yang digunakan untuk produksi baterai lithium masih impor. Oleh sebab itu, pihaknya sudah merencanakan agar ke depannya menggunakan material aktif dengan memakai bahan baku dari dalam negeri.

Sementara itu Ketua Tim Peneliti Teaching Factory Baterai Lithium UNS Agus Purwanto mengatakan hasil penelitiannya, setelah diproduksi dalam skala penelitian menghasilkan 1000 unit baterai/harinya. Hal tersebut bekerjasama dengan Pertamina.

"Kami bekerjasama dengan industri swasta seperti Pertamina dalam memproduksi baterai lithium UNS secara massal untuk kebutuhan pasar kendaraan listrik," kata Agus.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA