Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tak Terpaku pada Nilai, Mahasiswa Harus Tingkat Kompetensi

Senin 22 Oct 2018 10:18 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Esthi Maharani

Mahasiswa

Mahasiswa

Penguatan kompetensi menjadi hal yang penting dalam meningkatkan daya saing

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Global Competitiveness Index Indonesia masih berada di peringkat rendah yakni peringkat ke-36 dari 137 negara. Untuk itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir menekankan agar mahasiswa terus meningkatkan kompetensi.

Nasir menegaskan, penguatan kompetensi menjadi hal yang penting dalam meningkatkan daya saing masyarakat Indonesia di mata dunia. Sehingga perlu ada perubahan pola pikir untuk melihat pentingnya peningkatan kompetensi.

"Selama ini kita hanya terpaku pada nilai akademik dan mengesampingkan kompetensi. Seharusnya dapat diberikan bersamaan karena itu yang dibutuhkan oleh perusahaan dan dunia kerja," ujar Nasir melalui pesan tertulis, Senin (22/10).

Dia menjelaskan faktor yang berpengaruh dalam persaingan global adalah pendidikan tinggi dan pelatihan, serta riset dan inovasi. Dengan adanya peningkatan pada lini tersebut maka dia optimistis Global Competitiveness Index Indonesia akan meningkat.

"Kita perlu tingkatkan itu agar Global Competitiveness Index Indonesia," harap dia.

Nasir juga membandingkan, di bidang pendidikan tinggi, Indonesia memiliki 262 juta penduduk dengan 4600 perguruan tinggi. Sedangkan Cina hanya memiliki 2824 perguruan tinggi dengan jumlah penduduk yang lebih dari 1,4 milyar orang. Berdasarkan data tersebut, Indonesia memiliki penduduk 1/6 dari total penduduk Cina serta perguruan tinggi yang dua kali lebih banyak. Sementara itu di bidang riset, Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam empat tahun terakhir.

"Maka ini juga harus jadi perhatian bersama, saya minta agar semua dosen melakukan riset dan publikasi," jelas dia.

Meski di sisi lain, jumlah publikasi ilmiah Indonesia mengalami peningkatan sejak tahun 2015 awal yang hanya ada sekitar 5 ribu, sekarang sudah mencapai 20 ribu. Dengan jumlah tersebut, publikasi ilmiah Indonesia juga sudah berada di atas Thailand yang hanya sekitar 12 ribu jurnal.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA